Wednesday, June 22, 2011

Sinopsis Paradise Ranch Episode 13

PARADISE RANCH
EPISODE 13


Ayah Jin Young bertanya, “Aku tidak tau apa yang harus dikatakan dalam pertemuan pertama kita ini. Tapi, Aku dengar kau sudah bercerai, Benar?” Dong Joo menjawab, “Ya.” Ayah Jin Young menghembus nafas kesal dan dia terlihat tidak menyukai Dong Joo, “Di dunia ini hanya ada satu orang yang berani bersikap lanciang di hadapanku. Dan itu adalah putriku.” Dong Joo mencoba membela Jin Young, “Direktur… Jin Young sudah bekerja keras selama ini…” Namun ucapannya itu terhenti karena Ayah Jin Young memotong ucapannya, “Aku sudah membesarkannya untuk bertahun-tahun. Aku lebih mengerti dia dari pada kau, benar bukan? Seperti putriku yang berharga… untuk bertemu denganmu… Aku hanya membuang waktuku yang sama berharganya dengan emas. Tinggalkan Jin Young... ” Dong Joo terkejut mendengarnya.

Ayah Jin Young kemudian melanjutkan ucapannya, “Aku bertemu dengan Kakek-mu. Dan karena dia, aku setuju untuk bertemu denganmu seperti ini. Mulai sekarang… Jika kau tetap bersama dengan putriku, Jin Young… Dan aku mendengar hal itu, maka orang di sekitarmu akan terlibat juga hingga kau menyerah mengejar Jin Young.” Dong Joo lagi-lagi terdiam mendengarnya. Dong Joo memberanikan diri menatap Ayah Jin Young dan berkata padanya, “Apakah kau sudah selesai makan? Setelah chef disini diganti, makanan penutupnya tidak begitu lezat. Setelah memakan makanan manis maka lebih baik jika meminum red tea. Aku pamit dahulu…” Dong Joo berdiri dari duduknya, namun dengan cepat Ayah Jin Young menahannya, “Mengapa kau begitu arogan? Duduk!” Dong Joo menatap Ayah Jin Young penuh keraguan.


Da Ji sedang makan bersama dengan Da Eun di rumah dan mereka berdua sedang membahas kepergian Dong Joo. Da Eun menggerutu pada Da Ji yang membiarkan Dong Joo pergi, “Seharusnya saat Kakak ipar pergi…” Da Ji segera memotong ucapan Da Eun, “Kakak ipar apa? Berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal dan makan saja makananmu!” Da Ji menyuapkan nasi ke mulutnya dan mulai mengomel, “Orang itu hanya tau cara menggerutu saja setiap harinya. Setelah dia pergi, hatiku merasa tenang.” Da Eun melihat makanan di meja dan dia melihat ada sup telur yang merupakan makanan kesukaan Dong Joo, “Kau dan aku tidak menyukai telur yang di sup begini. Dan nasi itu juga… Apakah kau memasak sup ini untuk hantu hah?” Da Ji terlihat salah tingkah, “Aku menyukai sup telur ayam. Dan aku memasak ini karena aku berniat makan bersama dengan yang lainnya nanti.”

Da Eun berkomentar, “Kau bersikap seperti tidak ada yang terjadi dan kemudian kau akan marah-marah. Kau seharusnya tidak mengusirnya keluar drai rumah.” Da Ji yang mendengar ucapan Da Eun langsung kesal, “Dia lah yang ingin tinggal di tempat lain! Aku beritahu padamu ya, aku bukanlah orang yang mengusirnya!” Da Ji kemudian mengeluarkan kata-kata ejekan untuk Dong Joo, “Dasar orang sial! Keras kepala! Kau tidak cocok denganku!” Da Ji mengambil nasi yang ada di mangkok Dong Joo dan memakannya. Da Eun hanya bisa terdiam melihat sikap Kakaknya itu.


Ayah Jin Young menatap Dong Joo dan mengatakan permintaannya, “Walaupun aku tau kau akan menolak permintaanku… Putriku itu, tolong tinggalkan dia. Kumohon jangan bertemu lagi dengan putriku.” Dong Joo berkata, “Jika orang dewasa berkata ‘bertemu’, maka kami bisa bertemu. Dan jika orang dewasa melarang kami bertemu maka kita tidak boleh bertemu? Di usia kami yang seperti ini? Aku tidak yakin dari maka kau tau mengenai kami. Tapi aku bukanlah tipe anak kecil yang akan mendengarkan perintah speerti itu. Aku bukanlah orang yang patuh. Itulah sebabnya Kakek-ku mengirimkanku ke Pulau Jeju. Dan tolong jangan mengontrol Jin Young. Ini bukan seperti aku mencuri dia darimu. Demi nama anakmu, entah apapun itu, kau selalu mencampuri urusannya. Dari pengalaman baik dan buruklah kami belajar apa yang benar dan salah. Bukankah engkau yang menulis buku ‘Akibat yang tidak diketahui’?”

Ayah Jin Young benar-benar kesal mendengar ucapan Dong Joo, “Apakah kau sedang memberikan ceramah padaku?” Dong Joo menjawab, “Aku dengar direktur adalah orang yang sangat menakutkan. Aku berharap tidak seperti itu. Direktur… Setiap kali kau seperti ini hanya akan membuat Jin Young sedih. Aku permisi pergi…” Dong Joo berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Restaurant itu.


Ayah Jin Young memanggil seorang dan berkata, “Banyak yang mengeluh bahwa makanan penutup disini tidak lezat. Mengapa kau tidak melakukan apapun hah? Tulislah surat pengunduran diri. Kau dipecat!”


Dong Joo keluar dari Restaurant itu dan duduk di sebuah kursi. Dong Joo berkata, “Aku membeku. Aku hampir saja buang air disana.”



Yun Ho masuk kedalam kamar dan dia terkejut saat melihat Mil Hye baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk kimono. Yun Ho segera membalikan badannya dan meminta maaf. Mil Hye terlihat bingung dan berkomentar, “Sebagai pasangan suami istri kita sudah saling melihat. Untuk apa meminta maaf? Ayo sarapan..” Mil Hye berjalan keluar kamar dan YunHo masih terdiam saja.




Mil Hye sudah duduk di meja makan dan dia berkata, “Aku memesan makanan dari room service. Kau sudah tau bahwa aku sama sekali tidak tertarik dalam dunia masak. Dan kau juga… Kau tidak usah memaksakan dirimu untuk tertawa jika kau sedang tidak ingin tertawa. Dan jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu. Dan… Aku tidak suka melihat kau berpenampilan seperti itu, jadi mulai sekarang aku akan memilihkan kemejamu dan juga dasimu. Dan aku akan memberikan kau waktu, seperti yang kau minta. Jika mood-ku sedang buruk maka aku tidak tau masalah apa yang akan aku perbuat.” Yun Ho tersenyum mendengarnya, “Terima kasih. Mil Hye yang lama telah kembali.” Mil Hye ikut tersenyum mendengarnya.



Dong Joo datang bertemu dengan Jin Young dan memberikannya segelas kopi. Dong Joo bertanya, “Mengapa kau memaksakan dirimu mengerjakan ini semua?Jika aku adalah kau maka aku sudah membiarkannya begitu saja.” Jin Young tersenyum dan berkata, “Aku tidak sepertimu Direktur!” HP Jin Young berbunyi dan raut wajah Jin Young langsung berubah saat melihat bahwa yang menelfon itu adalah Ayahnya. Jin Young mematikan HPnya dan berkata pada Dong Joo, “Hmm aku tidak akan mengangkat telfon hingga pekerjaanku selesai.” Dong Joo hanya terdiam tidak berkomentar. Kemudian Jin Young berkata, “Itu yang menelfon adalah Ayahku. Aku mengatakan padanya bahwa kita berpacaran. Mengetahui sifat Ayahku, kau pasti merasa tidak nyaman. Apakah itu tidak apa-apa?” Dong Joo tersenyum dan berkata, “Kau juga tau bahwa Ayahku sering membuat masalah denganku jadi itu bukanlah masalah besar.”

Jin Young kemudian bertanya, “Ah apakah kau tidak kerja sambilan di Restaurant bir itu?” Dong Joo menjawab, “Aku sudha tidak tinggal di tempat itu lagi. Aku akan tinggal sementara bersama Asisten Lee.” Jin Young mencium pipi Dong Joo dan tersenyum, “Terima kasih. Kau tidak membuatku harus menunggu selama sebulan.” Dong Joo pun balas tersenyum pada Jin Young.


Da Ji membuka kamar yang dahulu di tempati oleh Dong Joo dan mulai mengomel kesal, “Mengatakan bahwa dia tidak ada tempat tinggal lain selain disini. Huh baguslah… Tanpamu disini maka aku tidak perlu bersih-bersih ruanganmu, mencuci dan memasak untukmu. Woah aku merasa senang. Di kamar ini banyak space kosong…. Sangat nyaman! ” Namun terlihat jelas di wajah Da Ji bahwa Da Ji merasa kehilangan.



Asisten Lee keluar dari kamar mandi dan dia kesal saat melihat Dong Joo sedang duduk di tempat tidurnya sambil membaca beberaa komik. Asisten Lee pun dengan terpaksa tidur di sofa. Dong Joo berkata pada Asisten lee, “Aku mengambil tempat tidurmu, maaf. Kau tau kan jika seseorang telah membantuku maka aku tidak akan pernah melupan bantuannya?” Asisten Lee menjawab, “Hanya untuk satu malam… Itu tidak apa-apa.” Dong Joo tersenyum dan melanjutkan membaca komik, “Jadi mulai sekarang kita akan tinggal bersama disini.” Asisten Lee terkejut mendengarnya.. Dong Joo kembali berkata, “Asisten Lee, jika kau tidak mengatakan apapun maka Kakek dan Ayah tidak akan mengetahui hal ini. Benar bukan? Apakah ada yang mau kau ucapkan Asisten Lee?” Asisten Lee kebingungan, “Itu… Kepala Direktur(Kakek)…” Dong Joo segera memotong ucapannya, “Kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Asisten Lee hanya perlu menutup mulutnya dan ini akan menjadi rahasia. Benar bukan?” Asisten Lee mengangguk ragu. Kemudian Asisten Lee berkata, “Tapi jika kau ingin surat persetujuan masyarakat maka kau harusnya tinggal di peternakan itu…” Dong Joo menjawab, “Mengapa aku harus melakukannya? Lee Da Ji yang akan melakukannya.”



Dong Joo datang ke tempatnya Jin Young dan ternyata Jin Young sedang sangat sibuk. Dong Joo bertanya, “Apakah kau sedang sibuk?” Jin Young menjawab, “Aku sedang sangat sibuk. Kepalaku rasanya seperti berputar-putar…” Dong Joo kembali bertanya, “Kapan kau akan selesainya? Kau mau aku membelikan tiket filmnya dahulu?” Jin Young terlihat tidak tega pada Dong Joo, “Bagaimana ini? Aku sepertinya tidak bisa pergi pada hari ini.” Dong Joo tersenyum, “Tidak apa-apa. Lanjutkanlah pekerjaanmu.” Jin Young tersenyum, “Aku akan mengosongkan jadwalku besok. Maaf ya.” Jin Young kembali melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Dong Joo.


Dong Joo berjalan di lorong Resort dan dia melihat ada tutup botol di lantai. Dong Joo pun menendang-nendang tutup botol itu seperti sedang bermain bola. Saat ada petugas Resort yang lewat di depan Dong Joo, Dong Joo pun berhenti memainkan tutup botol itu karena merasa malu. Sementara itu si petugas Resort tertawa melihat tingkah Dong Joo.



Dong Joo tiba-tiba saja bergumam sendiri, "Hari ini tidak ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Dan Da Ji juga tidak bekerja di Restaurant untuk sementara. Lalu apa yang harus aku lakukan?" HP Dong Joo berbunyi dan itu merupakan telfon dari Da Ji, "Walaupun kita sedang bertengkar... Apa kau tau, apa yang harus kau tetap lakukan? Ada banyak sekali tamu disini. Apakah kau benar-benar tidak akan datang?" Dong Joo menjawabnya dengan ketus, "Tidak akan datang! Walaupun aku mati, aku tidak akan datang! Jadi jangan merengek lagi padaku! Mengerti?" Dong Joo mematikan HPnya dan kembali mengomel sendiri, "Huh dia pikir dia itu siapa? Menyuruhku seenaknya saja."


Di Restaurant banyak sekali pengunjung yang datang dan mereka kesulitan mengantar pesanan dikarenakan lengan Da Ji sedang cedera sehingga tidak bisa membantu, di tambah lagi Dong Joo yang tidak datang.


Da Ji sedang keramas di dalam kamar mandi dan dia benar-benar kesulitan dikarenakan lengannya yang di perban sehingga dia hanya bisa menggunakan satu lengannya saja. Da Ji menatap kaca dan dia teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu saat Dong Joo membantunya keramas. Da Ji tersenyum saat mengingat kejadian itu, namun senyumannya itu langsung hilang seketika, "Kenapa aku tersenyum? Karena apa aku tersenyum? Apakah aku benar-benar gila?"


Da Eun masuk kedalam kamar mandi dan mengomentari Da Ji yang sepertinya mulai merasa kehilangan Dong Joo, "Sekarang kau sudah merasakan kondisimu yang sebenarnya kan? Kakak Ipar... Aku sudah tidak melihatnya beberapa hari ini. Aku merindukannya. Unni, bukankah kau merasakan hal yang sama juga?" Da Ji tetap menolak mengakui perasaannya itu, "Kenapa aku harus merindukannya? Aku sangat tidak ingin melihatnya! Memikirkannya saja membuatku kesal!" Da Eun yang sedang duduk di atas closet terkejut mendengar ucapan Da Ji, "Mengapa kau membuatku terkejut hah?" Da Ji memasang wajah memelas dan meminta Da Eun untuk membantu mencuci rambutnya, namun Da Eun meminta bayaran, "Da Eun, bantu aku mencuci rambutku ya." Da Eun menjawab, "Berapa kau akan membayarku? Jika tidak di bayar maka lupakan saja." Da Ji berkata, "Aku sudah melakukan banyak hal untukmu dan kau masih tetap meminta bayaran hah?" Da Eun tidak mempedulikan permintaan Da Ji dan berjalan keluar dari kamar mandi.


Da Eun melihat HP Da Ji ada di atas meja dan dia segera mengambil HP Da Ji sambil tersenyum licik, "Hmm haruskah aku mengirimkan pesan cinta untuk menjahili dia(Dong Joo)?"


Dong Joo sedang mengeringkan kaus kakinya dengan hair dryer pada saat sebuah pesan masuk kedalam HPnya. Dong Joo melihat pesan itu dan terkejut karena itu pesan dari nomor HP Da Ji.Di pesan itu Da Ji bertanya, "Apakah kau makan dengan baik?" Dong Joo membalasnya, "Aku makan dengan sangat baik. Kenapa?" Kemudian ada lagi pesan masuk, "Aku yang salah :-( Ayo kita bertemu dan membicarakan masalah ini." Dong Joo terkejut melihat pesan itu.




Da Ji baru keluar dari kamar mandi dan dia langsung melihat HPnya. Da Ji terkejut saat melihat ada pesan dari Dong Joo yang meminta Da Ji untuk datang jam 11 ke kantornya.



Dong Joo menunggu Da Ji namun Da Ji belum datang juga hingga jam 11. Terdengar ada suara orang yang masuk kedalam ruangan Dong Joo dan dengan cepat Dong Joo pura-pura sibuk karena dia menyangka yang datang itu adalah Da Ji. Dong Joo berkata pada orang yang masuk kedalam ruangannya itu, "Persingkat saja apa yang kau mau katakan. Aku sangat sibuk!" Ternyata yang datang ke ruangan Dong Joo itu adalah Jin Young. Jin Young terkejut mendengar kata-kata Dong Joo dan dia berkata, "Ah baiklah. Harusnya aku menelfonmu dahulu. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku ada rapat disini jadi aku hanya ingin menemui sebentar." Dong Joo terkejut saat menyadari bahwa yang datang itu adalah Jin Young, "Jin Young? Tidak. Aku tidak sibuk sama sekali."



Dong Joo pergi keluar ruangannya bersama Jin Young. Jin Young bertanya, "Apa yang akan kita lakukan nanti?" Dong Joo balas bertanya, "Apa yang ingin kau lakukan?" Jin Young merangkul lengan Dong Joo dan tersenyum, "Pertama-tama... Mencari Restaurant yang bagus di internet dan kemudian kita mendatanginya satu per satu setiap harinya. Kedua... Makan malam di rumah dan menonton dvd sepanjang hari. Banyak sekali hal yang ingin aku lakukan bersamamu. Jalan-jalan. Aku ingin sekali pergi jalan-jalan. " Dong Joo ikut tersenyum mendengar keinginan Jin Young.


Sejak tadi Da Ji menunggu di ruangan Dong Joo namun Dong Joo belum juga datang. Da Ji pun kesal sendiri jadinya, "Apakah dia sedang bercanda denganku? Mengapa menelfon orang sibuk dan meminta untuk menunggu seperti ini huh?"

HP Da Ji berbunyi dan itu sepertinya merupakan telfon dari Tuan Yang. Da Ji mendengar ucapan Tuan Yang dan dia terkejut mendengarnya, "Apa? Kau ada dimana?"



Yun Ho pulang ke kamar resortnya dan dia melihat Mil Hye yang sedang menggambar design baju. Yun Ho duduk di depan Mil Hye dan bertanya, "Apa kau ingin pergi jalan bersama? Saat sesuatu tidak berjalan dengan keinginan maka tinggalkan disini dan lakukan hal yang lain. Itu mungkin membantumu menemukan inspirasi baru." Mil Hye bertanya, "Apakah kau sibuk?" Yun Ho tersenyum, "Tapi aku tetap harus bertahan hidup. Pertama-tama ayo makan. Aku akan meneraktirmu." Mil Hye bingung mendengar kata-kata Yun Ho, "Sayang, kau tau cara mengatakan hal-hal seperti itu?" Yun Ho ikut bingung sendiri, "Hmm apakah itu aneh?" Mil Hye menjawab, "Mengkhawatirkan aku tidak makan siang... Kau bukan orang seperti itu sebelumnya. Karena kau telah berkencan dengan wanita lain, kau benar-benar berubah dan menjadi orang yang baru." Yun Ho lagi-lagi tersenyum, "Apakah itu sebuah komplain?" Mil Hye ikut tersenyum.

Mil Hye bertanya, "Apakah kau suka jalan-jalan bersamanya juga?" Yun Ho terkejut mendengar pertanyaan itu. Mil Hye tersenyum dan berkata, "Baiklah kalau begitu aku juga ingin jalan-jalan bersamamu." Yun Ho ikut tersenyum lega.


Ternyata Tuan Yang berniat datang ke kamar resortnya Yun Ho untuk menagih masalah kuda. Dengan cepat Da Ji berusaha menghalangi jalan Tuan Yang, namun tetap saja Tuan Yang berhasil melewati Da Ji dan sampai di depan kamar Resort Yun Ho tepat pada saat Yun Ho keluar dari dalam kamar itu bersama dengan Mil Hye.

Yun Ho melihat Tuan Yang dan bertanya, "Apakah kau mencariku?" Tuan Yang menjawab, "Ya. Aku datang kemari karena sebelumnya kau pernah bilang akan memberikan uang padaku untuk membeli kuda itu." Yun Ho menjawab, "Kalau begitu ayo pergi ke ruanganku dan membicarakan hal ini."

Namun dengan segera Da Ji menahannya, "Tidak perlu. Kau tidak perlu melakukan hal ini." Da Ji menatap Tuan Yang dan menjelaskan keadaan Paulist, "Walaupun perlahan-lahan, namun kondisi Paulist semakin menampilkan perubahan. Kau tidak perlu membayar biaya makanannya. Cukup berikan waktu padaku." Tuan Yang tetap menolak hal itu dan akhirnya Da Ji membentak Tuan Yang di hadapan Mil Hye dan Yun Ho, "Mengapa kudamu tidak bisa berlari? Itulah yang harusnya diketahui! Setiap hari kau hanya memikirkan uang, uang dan uang! Kuda juga mengerti akan hal itu! Kau seharusnya menjaganya! Jika kau tidak mendengar perkataanku maka aku tidak mau melihatmu kembali!" Tuan Yang terkejut mendengarnya, "Hah? Kini mengapa kau yang menakut-nakuti aku hah?" Da Ji berkata, "Ayo kita pulang." Tuan Yang menatap Da Ji ketus, "Aku bisa berjalan sendiri!" Tuan Yang pun segera pergi dari hadapan Mil Hye dan Yun Ho. Da Ji menunduk memberikan salam dan kemudian ikut pergi.


Dong Joo berada di ruangannya dan dia mengeluh karena Da Ji belum juga datang, "Apakah dia menjahiliku hah? Dia yang mengirimkan pesan terlebih dahulu dan mengapa dia yang belum datang juga hah?"


Da Ji sengaja memakai makanan untuk memancing Paulist berjalan mendekatinya, namun tetap saja usaha itu sia-sia. Dong Joo yang datang ke peternakan dan melihat hal yang di lakukan oleh Da Ji pun segera menghampiri Da Ji, "Kau pikir Paulist ini sama sepertimu hah? Gila akan makanan?" Da Ji terkejut melihat kedatangan Dong Joo, "Mengapa kau datang kemari?" Dong Joo menjawab, "Bukankah kau yang tadi bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Da Ji bingung, "Aku? Kapan?" Dong Joo menjawab, "Pagi-pagi kau mengirimkan pesan padaku." Da Ji terkejut, "Kau lah yang pertama mengirimkan pesan padaku untuk datang ke kantormu!"

Dong Joo mengeluarkan HPnya dan menunjukan sms yang tadi dia dapat dari nomor Da Ji, "Lihat ini. Bukankah kau yang bilang ada sesuatu yang ingin di katakan dan kita harus bertemu?" Da Ji menjawab, "Aku tidak mengirimnya! Baiklah katakan saja itu aku yang mengirimnya, lalu mengapa kau membuatku menunggu dan kau pergi begitu saja hah?" Dong Joo bingung menjelaskannya, "Itu tiba-tiba saja ada.... Ah yang penting aku datang kesini untuk mencarimu."


Ahjumma dan Ahjushi melihat pertengkaran itu dan tersenyum. Ahjumma berkata, "Apakah kalian sedang bertengkar karena saling pengertian? Ah ya semakin sering bertengkar maka akan semakin dalam perasaan kalian masing-masing." Da Ji terkejut mendengarnya. Ahjushi kemudian berkata pada Dong Joo, "Mengapa kau hanya berdiri disana hah? Apakah kau tidak akan membantuku membuat bir?"



Yun Ho sedang minum sendirian dan Mil Hye pun datang menghampirinya, "Kau tidak memiliki teman untuk minum bersama hah? Kau minum untuk menenggelamkan kesedihanmu? Kau terlihat sangat kesepian. Bahkan untuk menjadi teman minummu pun aku mau." Mil Hye kemudian membahas kejadian tadi saat Tuan Yang da Da Ji datang, "Memikirkan hal itu... Aku merasa prihatin. Jika kau dapat membantunya, tolonglah bantu dia. Tentu saja kau tau apa yang harus kau perbuat." Yun Ho tersenyum menatap Mil Hye, "Terima kasih." Mil Hye balas tersenyum, "Aku juga berterima kasih padamu."


Dong Joo pergi ke ruang pembuatan bir bersama dengan Ahjushi. Ahjushi sedang mengaduk bir dan dia berkata pada Dong Joo, "Saat kau tidak datang kemarin, Da Ji lah yang melakukan tugas-tugasmu. Apakah kau tidak akan kembali kemari lagi?" Dong Joo menjawab, "Jika aku kembali, kau pasti akan menindasku lagi." Ahjushi berkata, "Kenapa? Aku menindasmu hanya jika sedang bosan saja. Tanganku pegal, Kau lanjutkan untuk mengaduknya." Dong Joo mengaduk bir itu sementara Ahjushi meminta Da Ji untuk mengawasi pekerjaan Dong Joo.



Da Ji berkomentar, "Kau aduklah dengan benar dan lebih konsisten." Dong Joo kesal mendengarnya, "Aku sudah melakukannya!" Da Ji kemudian berkata, "Pesan itu... Da Eun lah yang mengirimkannya. Bukan aku." Dong Joo menjawab, "Ya aku tahu." Da Ji kemudian bertanya, "Hm kau bilang kau tidak ada teman untuk tinggal, Jadi dimana kau tinggal sekarang? Apakah kau tinggal dengan Jin Young?" Dong Joo langsung menatap tajam Da Ji.

Da Ji kemudian berkata, "Aku tidak bermaksud begitu... Itu karena kau tidak menikah dan mungkin saja tinggal bersama dengan pacarmu. Hmm itu tidak baik jika di lihat dari sudut pandang orang lain." Dong Joo kemudian berkata tajam, "Lalu bagaimana dengan tinggal bersama dengan mantan istri hah? Bukankah itu lebih tidak baik?" Da Ji berusaha menjelaskan namun Dong Joo memotong ucapannya, "Aku tidur di sofa di ruanganku. Tidur meringkuk seperti itu hampir membuat punggungku patah. Huh pada akhirnya kau lah yang memancingku membicarakan masalah pribadiku! Kau tidak perlu mempedulikan urusan pribadiku, urus saja dirimu sendiri. Kau berteman dengan seorang pria yang sudah menikah dan kalian bertemu di malam hari." Da Ji dengan segera berkomentar, "Itu bukan seperti yang kau pikirkan! Dalam beberapa hari... Yun Ho akan pergi. Melakukan pekerjaanku di peternakan Resort, aku akan bertemu dengannya namun pada saat melihatnya, aku akan pergi. Mungkin lebih baik jika aku menyembunyikan diri dan dia tidak melihatku.Bukankah kau yang bilang padaku 'Kapan kita bertemu? Jangan terlalu tidak sabaran?'" Dong Joo tid ak berkomentar apa-apa mendengarnya.

Da Ji melihat Dong Joo yang masih mengaduk bir dan dia pun menawarkan diri membantu, "Jika lenganmu pegal m aka biarkan aku yang mengerjakannya." Dong Joo melihat perban Da Ji dan berkata, "Apakah kau ingin lenganmu yang satu lagi juga ikut diperban? Kapan kau akan melepaskan perban itu?" Da Ji menjawab dengan ceria, "Akhir minggu ini. Aku sangat senang sekali jika m emikirkan hal ini. " Dong Joo berkomentar, "Walaupun perbanmu sudah dilepas, jangan membawa barang yang berat. Itu tidak baik untuk lenganmu." Da Ji terlihat salah tingkah mendengar hal itu, "Hmm baiklah."

Da Ji kemudian berkata, "Jika kau tidak nyaman tidur di sofa kantormu, maka kau bisa kembali ke peternakan." Dong Joo berkomentar, "Jika aku kembali maka kau berencana untuk mengomeliku hah?" Da Ji menjawab, "Aku tidak akan mengomelimu. Kembali lah dan jangan menderita seperti itu."


Dong Joo pun ikut makan malam di rumah Da Ji dan dia terlihat makan dengan lahap, Da Ji memperingatkan Dong Joo agar tidak makan dengan cepat-cepat agar tidak tersedak. Da Eun yang ikut makan bersama pun berkomentar melihat sikap Da Ji dan Dong Joo, "Kalian bahkan saling berdebat saat makan? Tidak apa-apa. Itu hal yang bagus." Da Ji memukul kepala Da Eun dan bertanya, "Apanya yang bagus hah? Dan kau kan yang mengirimkan pesan padanya hah?" Da Eun kesal dan marah pada Da Ji, "Mengapa memukul kepalaku? Bukankah kau tau bahwa aku benci di pukul di kepala?" Dong Joo kemudian membela Da Ji, "Karena sikap burukmu maka kau pantas di pukul. Dan lagi berdebat dengan Kakakmu sendiri itu tidak baik!" Da Ji terkejut saat mendengar Dong Joo membela dirinya.

Da Eun kesal dengan sikap Dong Joo dan dia pun berkata pada Da Ji, "Aku ingin bekerja keras untuk ujian kali ini, maka dari itu aku akan menggunakan kamar Ayah(Kamar yang selama ini di pakai Dong Joo) untuk belajar. Aku akan mempergunakannya hingga ujian selesai. Lagi pula tidak ada yang menempati kamar itu, jadi tidak apa-apa kan?" Da Ji dan Dong Joo sama terkejutnya mendengar hal itu. Da Ji tidak ada pilihan lain dan dia setuju atas permintaan Da Eun. Da Eun kemudian berkata pada Dong Joo, "Jika kau sudah selesai makan maka pergilah. Ini sudah malam. Hmm aku penasaran dengan kabar Ayah." Da Eun mengeluarkan HPnya untuk menelfon Ayahnya namun dengan cepat Da Ji merebut HP Da Eun, "Ayah pasti baik-baik saja."

Dong Joo tersenyum kesal pada Da Eun dan segera mengambil jasnya kembali. Da Ji bertanya, "Apakah kau akan pergi sekarang? Setidaknya habiskanlah makananmu sebelum pergi." Dong Joo menggelengkan kepala dan berjalan keluar.


Di depan rumah Da Ji, Dong Joo terlihat mengomel kesal atas sikap Da Eun yang tadi seperti mengusirnya, "Walaupun itu adiknya, apakah dia harus bersikap seperti itu hah? Kau seharusnya tidak membiarkan orang pergi begitu saja karena itu sudah sangat malam!"


Kompetisi pacuan kuda mulai diadakan dan Da Ji lah yang menjadi MCnya. Dong Joo datang menghampirinya dan berkata, "Jangan memberikan mereka extra waktu hanya karena mereka itu baik. Maksudku bersikaplah yang adil." Da Ji menjawab, "Apa maksudmu? Tentu aku adil." Dong Joo menunjuk seorang Ahjumma dengan kudanya dan berkata, "Lalu mengapa kau membiarkan Ahjumma itu lolos ke babak berikutnya hah?" Da Ji menatap Ahjumma yang di tunjuk oleh Dong Joo dan dia terkejut karena itu adalah Ahjumma yang di Restaurant sedang bersama Jong Dae. Dan akhirnya dengan terpaksa Dong Joo mengeliminasi kudanya Ahjumma.



Ayah Dong Joo diundang datang ke perusahaan Ayahnya Jin Young. Ayah Jin Young berkata, "Aku dengar perusahaan Dong In adalah perusahaan besar di industry ini." Ayah Dong Joo tersenyum mendengarnya, "Ah terima kasih atas pujiannya. Di bandingkah dengan perusahaanmu, perusahaan kami ini bukanlah apa-apa." Ayah Jin Young kemudian berkata, "Aku sedang memikirkan untuk rencana investasi, tapi aku ingin yang bertanggung jawab akan hal ini adalah Direktur Han Dong Joo." Ayah Dong Joo terkejut mendengarnya.


Yun Ho sedang melihat kuda poninya berlari di peternakan dan hal itu membuatnya ingat masa-masa saat kuda poni itu di rawat oleh Da Ji. Asisten Baek datang menghampirinya dan mengatakan bahwa Perusahaan Dong In ini sepertinya sedang kontak dengan investor asing dan berniat memperluas ruang lingkupnya. Yun Ho mengangguk mengerti dan meminta agar Asisten Baek tetap memantau hal itu.

Asisten Baek kemudian mengomentari penampilan Yun Ho, "Kau terlihat lelah." Yun Ho hanya tersenyum menanggapinya. Yun Ho melihat kuda poni miliknya dan berkata, "Hyung, dia sudah tumbuh besar bukan? Kuda yang sebelumnya hanya bisa diam di pojokan saja kini sudah bisa berlari di halaman seperti ini dan juga makan dengan lahap. Ini semua karena dia bertemu dengan pelatih yang baik." Yun Ho tersenyum menatap kuda itu dan tentu saja pelatih yang di maksud oleh Yun Ho itu adalah Da Ji.


Da Ji sedang berada di ruangan Dong Joo untuk membahas kompetisi kuda. Da Ji merasa punggungnya gatal sehingga dia menggaruknya. Dong Joo yang melihat sikap Da Ji pun berkomentar, "Kau harus sering-sering mandi!" Da Ji menjawab, "Ini karena tanganku tidak sampai ke punggungku, aku sering mandi kok." Dong Joo mengambil pensil dan bertanya, "Dimana bagian yang gatal?" Da Ji menjawab, "Punggungku..." Dong Joo pun pada akhirnya membantu menggarukan punggung Da Ji.

Dong Joo melihat data kuda dan terkejut, "Kuda nomor 11 ini memiliki 93 record?" Da Ji menjawab, "Oh itu kudanya Ahjumma." Dong Joo berkomentar, "Melihat catatan ini sepertinya dia bisa berhasil mendapatkan medali emas." Dong Joo dan Da Ji kemudian kembali berdebat masalah kuda dan kesibukannya Dong Joo.

HP Dong Joo berbunyi dan dia terlihat enggan mengangkatnya. Da Ji berfikir bahwa itu telfon dari Jin Young makanya dia meminta Dong Joo untuk mengangkat telfon itu. Dong Joo mengangkat telfon itu dan berkata, "Hmm ya Ayah?" Da Ji terkejut karena ternyata yang menelfon itu adalah Ayahnya Dong Joo.


Kakek pergi makan bersama dengan Ayah Da Ji. Kakek bertanya, "Bagaimana kabar Da Ji? Apakah kau akan terus membiarkannya sendiri begitu? Dia bisa menderita karena sendiri. Apa dia memiliki seseorang yang dicintainya?" Ayah Da Ji menjawab, "Dia sedang berkencan dengan seseorang." Kakek tersenyum mendengarnya karena dia berfikir orang yang di kencani Da Ji itu adalah Dong Joo, "Oh jadi kau sudah mengetahui hal itu?" Ayah Da Ji menjawab, "Ya. Saat pertama melihatnya, aku tidak begitu menyukainya. Namun setelah di pikirkan, dia tampak seperti orang yang jujur. Bisnisnya sangat sukses dan dia pasti tidak akan menipu Da Ji." Kakek terus tersenyum mendengarnya.

Ayah Da Ji kembali melanjutkan ucapannya, "Walaupun dia warga negara Amerika... Bahkan jika mereka berniat tinggal di Amerika, aku tidak keberatan." Kali ini Kakek terkejut mendengarnya, "Warga negara Amerika? Siapa?" Ayah Da Ji menjawab, "Orang yang di kencani oleh Da Ji." (Ket: Yun Ho sejak kecil tinggal di Amerika, karena itulah dia menjadi warga negara Amerika.)


Da Ji selesai mandi dan dia pun mengunci pintu masuk. Da Ji kemudian berfikir sendiri, "Di transfer ke kantor utama? Apakah itu artinya dia akan kembali ke Seoul?" (Ternyata Ayah Dong Joo tadi menelfon Dong Joo itu karena Dong Joo di pindah tugaskan ke kantor utama yang ada di Seoul)


Dong Joo pulang ke rumah bersama dengan Ayahnya yang mabuk. Ibu Dong Joo yang melihat itu pun heran, "Dong Joo, apa yang terjadi?" Dong Joo menjawab, "Entahlah. Aku bertemu dengan Ayah di depan pintu rumah." Dong Joo membawa Ayahnya ke sofa dan bertanya, "Ayah, mengapa kau memindahkanku ke kantor pusat? Aku harus bekerja di kantor cabang." Ayah Dong Joo tersenyum, "Walaupun kau pindah ke kantor pusat, namun kau harus tetap bertemu dengan Jin Young. Kau tau siapa yang aku temui hari ini? Ayahnnya Jin Young!" Dong Joo terkejut mendengarnya, "Siapa?" Ibu Dong Joo lah yang kali ini menjawab, "Dia bilang dia bertemu dengan Ayah Jin Young. Tunggu disini, aku akan membuatkan teh madu."

Ibu Dong Joo baru saja akan pergi ke dapur, namun langkahnya itu terhenti saat melihat kehadiran Kakek. Dong Joo yang melihat Kakek pun langsung bertanya, "Ayah bilng aku di pindah tugaskan ke kantor pusat, itu tidak benar bukan?" Kakek hanya menjawab, "Ini sudah malam. Tidurlah." Dong Joo tentu tidak puas mendengar jawaban Kakek.


Da Ji sedang duduk di taman di temani kuda poni. Da Ji terus mengomel mengenai Dong Joo yang sama sekali tidak memberikan kabar padanya, "Mengatakan bahwa dia mendapat pindah tugas... Blang kita tidak akan bertemu kembali, setidkanya dia menelfonku! Satu minggu tanpa kontak, bukankah itu terlalu berlebihan? Benar-benar tidak di mengerti."

Yun Ho yang sedang berada di taman itu menghampiri Da Ji dan duduk di sampingnya. Yun Ho melihat Da Ji sedang makan dan berkomentar, "Itu terlihat lezat." Da Ji memberikan makanannya pada Yun Ho dan berkata, "Aku membuat ini, rasanya lezat. Cobalah." Yun Ho menerimanya dan tersenyum. Yun Ho kemudian menanyakan kabarnya Paulist, "Bagaimana paulist?" Da Ji justru balik bertanya, "Ahjushi, katakan yang sejujurnya padaku. Kau bilang bahwa orang tua Paulist telah memenangkan banyak hadiah dan lagi harganya bisa mencapai 60jt won?" Yun Ho tersenyum, "Apakah kau tidak mempercayai aku?" Da Ji menjawab, "Ini sudah 3 bulan namun dia masih tidak bisa berlari. Jadi di satu sisi Aku berfikir bahwa aku membelinya karena berada di negara asing dan di jahili oleh seorang pria yang bahkan baru aku temui satu kali. Dan disisi lain aku berfkir bahwa kau mendapatkan apa yang kau bayar." Yun Ho tersenyum mendengarnya.

Yun Ho berkata, "Kalau begitu berikan Paulist kembali padaku." Da Ji menjawab, "Apa Paulist itu barang? Mengembalikannya padamu?! Memikirkan mengenai hidupku, aku akan berusaha untuk memikirkannya kembali." Yun Ho kembali tersenyum, "Kau pasti sangat sibuk karena pacuan kuda itu kan?" Da Ji mengangguk, "Ya. Aku di percaya memegang tugas yang sangat penting." Yun Ho kemudian membahas masalah Dong Joo, "Direktur Han Dong Joo sepertinya dipindahkan ke kantor utama, Apakah semua urusan peternakanmu sudah selesai?" Da Ji terdiam sesaat mendengarnya, "Ternyata benar ya dia dipindah tugaskan? Aku tidak tau hal itu." Yun Ho bertanya, "Jadi masalah peternakan?" Da Ji menjawab, "Setelah mendapatkan surat persetujuan masyarakat sepertinya Dong Joo akan tetap menangani masalah ini. Muskipun Dong Joo bukan orang yang bisa diandalkan. Namun dia bukan tipe orang yang omong kosong." Yun Ho terdiam mendengar kata pujian yang diucapkan oleh Da Ji pada Dong Joo.



Dong Joo berjalan keluar dari rumahnya sambil membawa koper kecil berwarna hitam. Dong Joo melewati beberapa orang penjaga dan akhirnya dia berhasil keluar dari gerbang rumahnya. Namun tiba-tiba saja ada stick golf yang di arahkan padanya, dan ternyata yang memegang stick golf itu adalah Ayahnya.



Ayah Dong Joo membuka koper hitam yang Dong Joo bawa dan dia langsung mengomel kesal, "Kau mengambil uang dan emas dariku hah? Kau ini!! Pergilah bekerja di kantor utama! Jika kau pergi maka aku akan membekukan seluruh kartu creditmu!" Dong Joo berkata, "Aku harus kembali ke Pulau Jeju sekarang. pacuan kuda, dan masih banyak hal yang harus aku tangani." Ayah Dong Joo berkata, "Banyak orang yang bisa melakukan hal itu. Aku sudah katakan bahwa aku akan segera mencari Direktur baru untuk di bagian Pulau Jeju." Dong Joo tetap tidak menerima hal itu, "Mengapa ayah memutuskan hal itu? Apakah aku melakukan hal salah? Mengapa kau menganggu orang yang sedang bekerja keras?" Ayah Dong Joo menjawab, "Kau akan bertanggung jawab pada investasi Shu Lin Group(Perusahaan Ayah Jin Young.) Dengan hal ini kau bisa lebih dekat dengan Ayah Jin Young. Bukankah itu hal baik?" Dong Joo dengan cepat menjawab, "Itu bukan hal yang baik!"

Ibu Dong Joo mencoba memberikan pengertian pada Dong Joo namun Dong Joo tetap tidak mau bekerja di kantor pusat. Dong Joo meminta bantuan pada Kakek namun Kakek tidak bisa membantunya karena Kakek berfikir jika Dong Joo ada di Pulau Jeju maka Dong Joo akan sakit hati jika tahu bahwa Da Ji sudah memiliki hubungan dengan pria lain. Akhirnya Dong Joo pun pergi ke kamarnya dengan penuh kesal.

Kakek bertanya pada Ayah Dong Joo, "Mengapa kau memindahkannya? Aku pikir hubungannya dengan Jin Young itu terlalu cepat." Ayah Dong Joo ingin menjawab namun segera di potong oleh Ibu Dong Joo, "Dong Joo telah menyukai Jin Young dalam waktu yang lama. Dan lagi, kami menyukainya." Ayah Dong Joo terlihat tidak percaya atas ucapan Istrinya itu yang seperti mendukung dirinya memindahkan Dong Joo dari Pulau Jeju. Ayah Dong Joo kemudian berkata pada Kakek, "Dan lagi Tuan Park(Ayah Jin Young) bilang bahwa dia berharap Dong Joo bisa menjadi direktur Dong In di masa depan. Dan lagi sekarusnya kita senang karena mendapatkan investasi dari perusahaan Shu Lin. Tuan Park menyukai Dong Joo, itu bukanlah hal yang mudah." Kakek kebingungan harus mengatakan hal apa lagi untuk membela Dong Joo.


Jin Young sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan rekannya. Rekan Jin Young itu berkomentar, "Karena kau sudah lama tidak bertemu dengan kekasihmu ini maka kau menjadi cerewet. Kau cepatlah kembali ke Seoul." Jin Young tersenyum, "Haruskah aku cepat pulang ke Seoul? Aku berecana untuk menemuinya nanti." HP Jin Young bebrunyi dan Jin Young berkata pada rekannya itu, "Ini pasti dia(Dong Joo)" Namun raut wajah Jin Young langsung berubah saat mengetahui bahwa itu bukan telfon dari Dong Joo.

Jin Young menjawab, "Ya?" Asisten Ayah Jin Young berkata, "Direktur ingin bebricara denganmu." Jin Young balas berkata, "Tidak ada yang ingin aku katakan. Aku tutup telfonnya." Namun sebelum Jin Young menutup telfonnya, Asisten itu berkata, "Direktur ingin mengatakan sesuatu tentang pertemuannya dengan Han Dong Joo." Jin Young terkejut mendengarnya, "Dia bertemu dengan Dong Joo?"


Dong Joo melakukan video call dengan Asisten Lee. Asisten Lee terlihat kesal karena Dong Joo terlalu banyak bebricara. Asisten Lee berkata, "Jika kau mengurus hal disini maka kau akan merasa lelah." Dong Joo menjwab, "Bahkan jika aku lelah, aku harus tetap bertanggung jawab akal hal ini. Aku kembali ke Seoul hanya untuk sementara. Apakah persiapan Pacuan Kuda berjalan lancar?" Dong Joo cepat-cepat mematikan HPnya karena dia melihat Kakek berada di kamarnya.


Kakek membawa koper besar dan mendorongnya keluar rumah. Para bodyguard pun membantu Kakek membawa koper itu hingga keluar rumah dan setelah itu Kakek meminta para bodyguard itu untuk kembali kedalam rumah. Kakek membuka koper besar itu dan keluarlah Dong Joo dari dalam koper itu. Dong Joo berkata pada Kakeknya, "Hanya Kakek yang selalu ada disisiku." Kakek berkata, "Aku hanya berfkir bahwa kemanapun kau pergi maka itu adalah takdirmu. Entah itu Resort atau peternakan, selama kau bisa bekerja maka kau harus terus berusaha. Jangan pernah menyesal. Mengerti?" Dong Joo tersenyum senang, "Tentu saja. Aku pergi." Dong Joo segera berlari pergi dan Kakek tersenyum melihatnya.


Yun Ho sedang melihat video Paulist di dalam ruangannya. Asisten Baek bertanya, "Apa yang sedang kau lihat?" Yun Ho menjawab, "Ini video masa kecilnya Paulist. Aku memintanya pada peternakan asal Paulist. Mereka bilang Paulist berhenti berlari itu mungkin karena masalah pisikologinya. Video ini mungkin dapat membantu." Asisten Baek terus menatap Yun Ho dan akhirnya Yun Ho bertanya, "Mengapa kau menatapku seperti itu? Hanya hal ini lah yang bisa aku bantu untuk Da Ji."


Tuan Yang berniat membawa Paulist pergi dari peternakan Da Ji dan tentu saja Da Ji segera menghalanginya, "Kemana kau akan membawanya pergi?" Tuan Yang menjawab, "Aku akan membawanya ke Pendeta Tao(?) Tidak peduli apakah kuda ini mendapatkan pukulan atau cambukan, kuda ini harus bisa berjalan!" Da Ji terkejut mendengarnya, "Paman... Biarkan dia ikut kompetisi pacuan kuda. Aku mohon padamu agar mempecayaiku."

Dong Joo datang dan berkata pada Tuan Yang, "Percaya padaku dan aku akan bertanggung jawab agar Paulist dapat mengikuti kompetisi itu." Da Ji terkejut melihat kedatangan Dong Joo. Tuan Yang bertanya, "Mengapa aku harus mempercayainya?" Dong Joo menjawab, "Jika sulit percaya maka kita tulis surat jaminan." Tuan Yang dan Da Ji sama terkejutnya.


Da Ji berusaha menarik Paulist untuk berjalan namun tetap saja tidak berhasil. Dong Joo justru berkomentar, "Apakah kau ingin terjatuh dan mencium rumput hah? Dia ini tidak memiliki tenaga jadi bagaimana dia bisa berlari?" Da Ji berkata, "Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertandingan itu akan segera dimulai. Ngomong-ngomong... terima kasih, aku tidak akan menyusahkanmu kembali." Dong Joo berkata, "Dokter hewan akan datang kemari untuk melihat kondisi rumput peternakan." Da Ji berkomentar, "Suruh dia pergi saja. Mengapa kau membuang uangmu untuk hal seperti itu hah? Apakah kau tidak mempercayaiku hah?" Dong Joo terkejut melihat Da Ji yang justru marah, "Bagaimanapun juga dia sudah bergabung dalam perlombaan kan?" Da Ji berkata ketus, "Tapi pengurus Paulist itu adalah aku!!"

Da Ji menghampiri Paulist dan berbicara padanya, "Jika kau seperti ini terus dan tidak bisa berlari maka aku tidak akan mempu melindungimu kembali. Kau tau kan perlakukan pendeta Tao itu sangat kejam. Apakah kau ingin membuatku sedih? Kumohon berlarilah.... " Da Ji menangis di depan Paulist dan membuat Dong Joo ikut sedih.


Saat Da Ji berjalan menjauhi Paulist, Paulist berjalan dan kemudian mulai berlari di arena peternakan. Dong Joo yang melihatnya langsung terkejut dan memberitahukan hal ini pada Da Ji, "Lihatlah!! Dia barlari!!" Da Ji menatap Paulist dan benar saja Paulist sedang berlari di arena peternakan. Da Ji sangat senang melihatnya. saking senangnya, Da Ji memeluk Dong Joo tanpa sadar. Dan ternyata di depan pintu peternakan, terlihat Yun Ho yang membawa rekaman Paulist.


Dan masalah datang.... Ayah Da Ji dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.



Da Ji sangat senang karena Paulist bisa berlari, makanya dia bernyanyi riang. Da Eun yang melihat kegembiraan Da Ji pun bertanya, "Apakah kau sebegitu bahagianya melihat Kakak Ipar kembali hah? Bahkan kau bernyanyi dengan bahagia." Da Ji menjawab, "Bukan. Aku sedang menonton TV dan ikut bernyanyi saja." Da Eun berkomentar, "Ya baiklah. Aku ikut senang."



Dong Joo sudah kembali ke rumahnya dan kini dia sedang berada di kamar Ayah Da Ji. Da Ji menghampiri kamar itu dan berusaha memanggil Dong Joo dari luar pintu namun tidak ada jawaban juga. Akhirnya Da Ji masuk kedalam kamar dan melihat Dong Joo sedang tertidur. Da Ji duduk di samping Dong Joo yang tertidur dan berkomentar, “Hmm dia terlihat sangat lelah.” Da Ji mendekati wajahnya ke mata Dong Joo dan kembali berkomentar, “Bulu matanya benar-benar seperti wanita.” Tiba-tiba saja Dong Joo bersuara, namun matanya masih dalam keadaan terpejam, “Apakah tampan? Seberapa tampannya aku, tapi aku tidak bisa melihatnya seperti yang kau lakukan.” Da Ji terkejut mendengar Dong Joo berbicara.

Da Ji kemudian memarahi Dong Joo, “Kau ini tidak tidur, lalu mengapa dari tadi tidak menjawab saat aku panggil hah?” Dong Joo bangun dari tidurnya dan menjawab, “Bagaimana aku bisa tidur jika kau berisik sekali? Kau terlihat bahagia sekali melihat aku kembali. Bahkan kau menyanyi dengan suara kencang.” Da Ji tentu langsung membantah hal itu, “Tidak. Tidak seperti itu… Ini karena kau pergi tanpa pesan apapun.” Dong Joo berkata, “Aku akan tetap disini hingga mendapat semua surat persetujuan masyarakat. Dan lagi aku masih harus mengurusi pertandingan pacuan kuda ini.”

Da Ji terdiam sesaat kemudian bertanya, “Terdengar nyata… Bagaimana jadinya saat kau pergi setelah mendapatkan surat persetujuan masyarakat? Tanpamu yang selalu mengomel padaku, aku pasti merasa bosan. Dan aku juga akan sedikit penasaran dengan keadaanmu.” Da Ji malu sendiri setelah mengatakan hal itu makanya dia berniat keluar dari kamar Dong Joo, namun langkahnya itu terhenti saat Dong Joo berkata, “Aku juga penasaran dengan keadaanmu pada saat kita tidak bertemu. Aku selalu penasaran jika kau menyebabkan masalah atau mendapatkan tindasan.” Da Ji yang awalnya sudah mau tersenyum pun jadi kesal mendengar kalimat akhir Dong Joo. Da Ji kemudian balas berkata, “Saat kau mengatakan sesuatu maka hanya bisa membuat orang-orang marah!” Dong Joo berjalan keluar kamar dan berkata, “Aku akan membantumu. Jangan memaksakan tanganmu yang baru sembuh.”



Da Ji naik ke gerobak, sementara Dong Joo mendorongnya dari belakang. Di tengah peternakan, Dong Joo menjatuhkan Da Ji dari gerobak dan itu membuat Da Ji kesal. Dan ternyata pantat Da Ji menginjak kotoran kuda. Dong Joo yang melihat hal itu pun tertawa. Da Ji mengambil kotoran kuda itu dan mengejar-ngejar Dong Joo, Dong Joo pun langsung berusaha menghindar dari Da Ji,


Dong Joo berlari ke arah luar peternakan dan Da Ji terus mengejarnya. Namun tiba-tiba saja langkah Da Ji terhenti dan itu membuat Dong Joo bingung, “Ya! Mengapa kau tidak mengejarku?” Dong Joo mengikuti arah pandang Da Ji dan dia ikut terkejut saat melihat Ayah Da Ji sedang menatap mereka berdua. Ayah Da Ji bertanya, “Mengapa dia bisa berada disini?” Da Ji bingung menjawabnya.





0 comments: