Showing posts with label Style. Show all posts
Showing posts with label Style. Show all posts

Saturday, June 26, 2010

Style (Episode 16-Tamat)


Sinopsis Style
Episode 16 (End)


Kim Min Joon mengantar Park Ki Ja ke kantor. Dia mewanti-wanti agar Ki Ja tidak terlalu capek dan tidak lupa minum obat. Min Joon berkata dia akan menjemput Ki Ja pulang nanti.

Park Ki Ja mengetahui kondisinya kurang bagus dia mulai mendelegasikan tanggungjawab isi edisi 204 kepada Lee In Ja. Para editor sekrang seudah kembali percaya diri. Style tetap bisa mengalahkan edisi perdana Rian Lux. Rian Lux seperti lebih mirip catalog produk daripada majalah.

Park Ki Ja sendiri berkonsentrasi merancang sendiri desain tas Seo Yeon So, dengan ide dari tas pribadi Seo Yon So yang diberikan woo jin padanya.

Park Ki ja minta bantuan Seo Jung untuk mencari tahu trend bentuk dan bahan tas terbaru.

Mereka berdua lalu menemui perwakilan Rouen. Mereka tertarik desain Ki Ja dan mau memproduksi tas tersebut. Stelah dinas luar selesai Ki Ja dan Seo Jung berpisah. tak lama kemudian Park Ki Ja ambruk pingsan di mall.

SEo Woo Jin menemui Lee Bang Ja, kali ini karena keuangan mereka dibekukan dia meminta bantuan lagi untuk membantu membayarkan utang pada Son Byung Yi.

Park Ki ja di rumah sakit, saat sadar Min Joon menungguinya. Min Joon membujuk Ki Ja untuk mengikuti saran dokter segera dioperasi. Stelah operasi Ki ja harus istirahat total selama 7 hari.

“Setelah itu masih ada deadline 3 minggu untuk edisi 204, aku akan membawakan laptop, hpmu ke rumah sakit sehingga kau bisa mengontrol pekerjaan dari rumah sakit”, kata MinJoon menawarkan solusi.

Ki ja meminta operasinya ini dirahasiakan , hanya para editor yang boleh tau, termasuk dari Woo Jin.

Untungnya Para editor yang tersisa semakin kompak dan kreatif . Setelah Rian lux gagal di edisi perdananya mereka semakin percaya diri. mereka mengusulkan item yang menarik dan berkualitas untuk edisi 204. Lee In Ja baru kali ini merasa puas dengan usul2 juniornya. Seo Jung menawarkan wawancara dengan pemimpin redaksi untuk artikel utama. menurut dia justru karena terbaring di rumah sakit pemred jadi mudah untuk ditemui.

Seo Woo Jin datang ke kantor mencari Park Ki Ja, para editor merahasiakan bahwa park Ki Ja sedang di opname. Woo Jin bingung karena tidak menemukan Ki Ja. Dia lalu memohon pada Seo Jung agar memberitahu keberadaan park Ki Ja.

“Asal kau berjanji tidak akan protes dan memarahinya. kau hanya butuh mengerti dia”, kata seo jung mengajukan syarat. tapi kemudian Min Joon menelepon Woo Jin, dia akhirnya memberitahu Woo jin bahwa ki ja di rumah sakit.

Seo Wo Jin datang erburu-buru ke rumah sakit. Woo jin kesal dan mengomel karena Park Ki Ja merahasiakan keadaan sakitnya darinya.
Min Joon melihat suasana jadi tidak enak, dia menarik woo jin ke luar.
“Di usiamu yang sudah setua ini kamu tidak tahu bagaimana cara mencintai dan merangkul hati wanita?”, sindir Min Joon.

Saat Ki Ja tertidur, woo jin masuk dia memegang tangan Ki ja, dia berbicara sendiri bahwa dia membutuhkan Ki ja dan ingin menikah dengannya begitu dia pulih kondisinya. Woo Jin dulu tidak pernah berpikir ingin menikah tetapi kini dia berubah pikiran.

Woo Jin menunggui Ki ja sampai terbangun. Dia mengambilkan minuman dan bertanya dengan lembut mengapa Ki Ja merahasiakan ini padanya. Dia juga minta Ki ja tidak usah khawatir tentang profesi chef nya. Di amasih bisa menjadi koki di sana, hanya bukan menjadi pemilik restoran lagi. Ki ja tetap merasa kasihan.

Woo jin ingin mengatakan sesuatu

“Setelah kau pulih nanti, mari kita…”, Woo jin kelu lidahnya dia sebenarnya ingin “melamar” Ki Ja. “Mari kita…bersama bekerja untuk Style”, kata Wwoo jin merubah maksud kalimatnya.

Lee Seo Jung berkata pada ayahnya, bahwa ibunya telah pamit untuk belajar di luar negeri. Dia meminta ayahnya juga mencari teman wanita lagi. Seo Jung menunjukkan gaun pengantin yang ibunya berikan padanya. Tapi seo jung ingin ayahnya merombak gaun pengantin itu. Seo jung belum memikirkan untuk menikah dia ingin memakaikan gaun ini pada seseorang yang selama hidupnya terus mengabdikan dirinya pada kerja dan karir.

Lee bang ja ditemani Woo Jin datang menengok Ki Ja saat seo jung tengah mewawancarai Ki Ja.

Lee Bang Ja menasehati Ki Ja untuk memanfaatkan kesempaan ini untuk banyak beristirahat. Beliau sudah tahu penyakit park ki ja, dia memberi wejangan
“Anak itu karunia dari Tuhan. Jika mungkin seorang wanita tidak punya anak, itu karena Tuhan tidak ingin sang ibu terlalu menderita karena bayinya. Jadi jangan terlalu sensitif hanya karena masalah itu”, ujar Lee bang ja bijak.

Kim Min Joon memperlihatkan buku pertamanya yang diedit oleh Seo Jung yang baru terbit. Seo Jung bangga namanya tertulis disitu sebagai editor. Seo Jung sebenarnya tak rela Min Joon pulang ke London. Min Joon berkata dia akan tetap di sini

“Aku khawatir jika aku pergi, kamu sementara tak punya tempat tinggal lagi”, goda Min Joon. Seo Jung sangat bahagia dia sampai ingin memeluk MinJoon. Min Joon menggodanya dengan menyebutkan aturan mereka tinggal bersama,ga boleh ada perasaan pribadi/kontak fisik.

Para editor sudah mulai matang dan mampu menjalankan tugas mereka tanpa ditunggui pemrednya. Seo Jung sekarang seperti Ki Ja dia sibuk mengarahkan dan memarahi juniornya agar bisa bekerja. In Ja sekarang juga terbiasa sebagai pejabat sementara pemred. Dengan adanya program investasi dari pembaca setia Kali ini dilaporkan jumlah iklan meningkat drastis. rekor terbanyak sepanjang sejarah style.

Park Ki Ja telah pulih. Jadwal pertamanya setelah masuk kerja lagi adalah melakukan pemotretan untuk wawancaranya. Para staf telah berkumpul semua dan menyiapkan semua keperluan pemotretan, mereka juga menyiapkan ahli rias terbaik.

Park Ki Ja datang mereka semua menyambut kembalinya dengan gembira. Park Ki ja dirias lalu berpose di depan kamera dengan berbagai busana dan gaya. Min Joon yang langsung memotretnya.

Park Ki Ja kaget karena busana terakhir yang disiapkan Seo Jung adalah gaun pengantin. Seo Jung beralasan bahwa gaun pengantin adalah gaun impian semua wanita. Park Ki Ja selalu sibuk dengan kerja dan karir seojung ingin park ki ja merasakan memakainya. Park Ki Ja sedikit tersinggung dia berkata bahwa tiap orang punya kehidupan masing-masing. Akhirnya Min Joon berkata bahwa itu gaun terakhir yang diberikan ibunda Seo Jung. Seo Jung sengaja meminta ayahnya mempermak baju itu.

“Kamu adalah role model untuk Seo Jung”, kata Min Joon

Ki ja akhirnya luluh dia mau memakai gaun itu.

Seo Woo Jin telah bersiap-siap menemui park Ki Ja dilokasi pemotretan, dia berpakaian sangat rapi. Dan sebelum pergi dia tersenyum pada foto ibunya dengan bahagia.

Sesi pertama pemotretan selesai. Seo Jung berbincang kembali dengan Ki Ja. Ki Ja berkata bahwa dia akan cuti selama 3 bulan, selama dia cuti dia akan memberikan kursinya pada Seo Jung. Seo Jung mengingatkan Ki Ja saat-saat bahagianya dulu bekerja. Dia bangga akan kemajuan Seo Jung dan dia mengira Seo jung orang yang tepat untuk menggantikannya nanti.

Woo Jin datang menemui Ki Ja. Ki Ja malu dan risi karena dia sedang memakai gaun pengantin. Woo Jin diberi tahu oleh seo jung bahwa akan ada pemotretan Ki ja. Dan seo jung memitna Woo jin datang dan melihat Ki Ja memakai gaun pengantin

“Katanya kau pasti akan cantik memakai gaun pengantin”, kata Woo Jin. Ki Ja cuek dan menganggap itu rayuan gombal. Woo Jin gugup dan malu dia ingin melamar Ki Ja.

“Sekarang dibanding mendiang ibu saya, kamulah orang yang paling saya inginkan untuk tinggal bersama”, kata Woo Jin. Woo jin lalu mengeluarkan cincin. dia lalu berlutut di depan Ki Ja dan memakaikan cincin itu di jari Ki ja.

“Aku tidak menjanjikan apa-apa, aku hany akan memberikan semuanya untukmu. berbagilah denganku dan tetaplah di sisiku”

Park Ki Ja luluh. Dia akhirnya tersenyum manis menerima lamaran Woo Jin.
Park Ki Ja meneruskan sesi pemotretan berikutnya denan gaun pengantin (mirip pre weeding). Para staf mendorong Woo Jin agar maju berpotret bersama Ki Ja. Beneran mirip foto pre wedding. Mereka juga berteriak agar mereka berdua berciuman.

Woo Jin mencium pipi Ki Ja dengan manis…


TAMAT

Style (Episode 15)


Sinopsis Style
Episode 15


Ki Ja memeluk Kim Joon
“Sebagai pria yang tidak bisa mendapatkan wanita dan aku sebagai wanita yang tidak bisa punya anak, jangan pergi…, kata Ki ja sambil menangis, dia merasa sedih dan hampa” Cuma kamu yang bisa aku percaya sekarang”

Min Joon juga menangis terharu…

Di Luar Seo Woo Jin belum pergi. di menyaksikan mereka berpelukan dengan hati merana.

Woo Jin lalu pulang ke rumah, dia berbicara di depan foto ibunya.

“Ibu, seumur aku, aku menyatakan cinta di depan umum…dan aku juga ditolak”. Woo Jin malang.

Min Joon akhirnya pulang ke rumah. Seo Jung sudah lama menunggunya, dia butuh teman curhat.

“Kau menangis”, kata Min Joon. SEo Jung menjadi emosional selah menerima gaun dari ibunya.

Park Ki Ja dan para editor menyiapkan konsep edisi 203. para editor mulai minder, karena majalah Rian Lux juga akan launching bulan ini. Dengan kondisi keuangan dan sponsor seperti sekarang mereka merasa Style akan tersapu bergitu saja. Salah satu editor mereka juga dibajak oleh Rian Lux. Dia menghadap Park Ki Ja dan memberikan surat pengunduran diri.

Park Ki Ja mempunyai projek baru yaitu membuat rancangan tas dengan tema mendiang top model Soe Yon So (ibunda woo jin).

Direktur Su dr bagian keuangan (kaki tangan Son Byung Yi) menemui Woo Jin di restoran. Darinya dia baru tahu bahwa Group Rian telah menagih utang sebesar 2.1 miliar won kepada Style.Woo Jin merasa mungkin sikap Ki Ja berubah karena masalah ini.

Min Jon menemui dokter kandungan Park Ki Ja yang juga kenalannya. Dia ingin tahu apa sebenarnya penyakit Ki Ja. Dokter menerangkan bahwa Ki ja seharusnya cepat di operasi.
Begitu tahu penyakit Ki Ja parah Min Joon ke rumah Ki Ja dia ingin menjaga Ki ja. Min Joon membuatkan makan malam.

Woo Jin menelepon Ki Ja. Dia telah menunggu di luar rumah KI Ja ingin bertemu.

Woo Jin kecewa karena Ki Ja menjauhinya hanya karena masalah utang 2,1 miliar. Ia berkata akan menjual restorannya.

“Ibuku mewariskan Style padaku. Sekarang tidak ada yang lebih berarti bagiku daripada Style dan kau “, kata Woo Jin.

Min Joon khawair keadaan Ki Ja dia menyusul keluar dan membawakan jaket. Woo Jin sebal melihat Min Joon ada di sana.

“Ini bukan karena uang. Aku menginginkan kau turun dari jabatan, kata Ki ja berbohong. Min Joon lalu menuntun Ki Ja masuk. Woo Jin putus asa.

Min Joon menelepon Seo Jung dan memberi tahu di akan menjaga Ki Ja. Seo Jung mengerti tai dia ingin terus ditemani Min Joon mengobrol di telepon sapai dia tertidur.

Tengah malam Ki Ja mengaduh-ngaduh kesakitan. Min Joon bangun dan prihatin. Dia curhat pada Min Joon.

“Aku tidak bisa punya bayi, bukan karena aku tidak mau menikah. Hal ini menyakitkan karena aku bukan wanita seutuhnya”, Ki Ja menangis.

Style edisi terbaru telah terbit. Rian Lux edisi perdana juga terbit. Son Byung Yi kesal melihat cover Style yang baru oleh Choi Young Ae. Son Byung Yi tadinya mengejar top model Choi Yong Ae, tapi rupanya Park Ki ja berhasil mendahului mereka.

Di pasaran rang-orang menyukai Style yang mempunyai artikel berbobot. Rian Lux yang dipenuhi sponsor menjadi tampak seperti catalog produk dan malah menjadi terlalu tebal.

Park Ki Ja masih menolak dioperasi dia ingin kontrak dengan Lee bang Ja beres dulu baru dia merasa tenang.

Ki Ja ditemani Lee Seo Jung menemui Lee bang Ja di rumahnya. Saat makan tiba-tiba Ki Ja jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

Saat Ki Ja sadar dia telah ada di rumah sakit ditunggui oleh Lee Seo Jung. Dia berpesan pada Seo Jung bahwa jangan ada siapapun yang tahu kondisi dirinya sampai kontrak dengan Lee Bang Ja ditandatangani.

Son Byung Yi bertindah jauh, dia membekukan keuangan Style karena menganggap mereka belum melunasi kewajibannya pada Groupnya. Managemen Style rapat mendadak. Ki ja keluar dari rumah sakit. Woo Jin memimpin rapat. Para manajer panik dan minta keputusan cepat dari Woo Jin. Woo Jin tidak bisa memberi arahan apa-apa. Dia hanya berkata bahwa ini urusannya dan dia yang akan bertanggung jawab.

Woo jin kembali ke resoran dia berpikir dan merenung. Dia kemudia memanggil pengacaranya dan memutuskan untuk menjual restorannya.
Ki Ja mendengar kabar restoran Woo Jin sudah ditawarkan untuk dijual. Dia sangat khawatir dan segera meluncur ke restoran Woo Jin. Ki Ja berlagak mengkritik Woo Jin, tapi kali Woo Jin dia tidak terpancing.

“Kamu tidak usah mempedulikan aku bagaimana hidupku selanjutnya . Setelah restoran terjual dan semua urusan Style beres aku akan kembali ke Amerika”, kata Woo jin. Ki JA terhenyak (nah lo..nolak terus sih)

Woo jin memegang tangan Ki Ja.

“Jagalah kesehatanmu, tanganmu begitu dingin “, kata Woo Jin. Ki Ja terharu.

Woo Jin menyerahkan tas peninggalan ibunya Ki Ja.

“Bukankah kau dulu sekolah designer di London. kau bisa memulai mendesain lagi. Ini tas yang sering digunakan oleh ibuku. Kau bisa menggunakannya untuk projekmu”
Ki Ja terharu matanya berkaca-kaca.

Style (Episode 14)


Sinopsis Style
Episode 14


Program mencari investor dari pembaca setia dihadiri oleh Seo Woo Jin, Son Byung Yi, dan Lee Bang Ja sebagai 3 pemegang saham terbanyak di Style. Seo Woo Jin telah angkat tangan tanda setuju. Tak lama kemudian Lee Bang Ja pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, semua bertepuk riuh.

Son Byung Yi merasa keki. Lee bang Ja menyindirnya, Son Byung Yi pun terpaksa mengangkat tangannya dengan setengah hati sambil tersenyum dipaksakan. Dengan dukungan pemegang saham terbesar, programpun dinyatakan berjalan.

Seo Jung di rumah kelelahan. Dia berkata pada Min Joon rasanya seluruh tubuhku sakit tak bisa bangun.

“Bukannya tadi di restoran banyak makanan enak, kamu malah minta dibuatkan mie instan”, kata Min Joon.

Seo Jung ingin makan mi instan, tapi rasanya tidak berat untuk bangun. Min Joon akan menyuapi dia.

Seo Jung malu dia langsung bangun. Dia merasa Min Joon selalu memanjakannya. Min Joon berkata dia akan kembali ke London.
“Rasanya aku sekarang akan lebih kehilanganmu dari pada Park Ki Ja”, kata Min Joon.

Akhirnya edisi 202 berhasil terbit walau dengan jumlah halaman yang menipis. Isue kesulitan yang dihadapi Style justru mendukung simpati dan penasaran banyak orang. Majalah style langsung habis terjual, rekor setelah sekian tahun tercapai lagi. Di kantor bel dibunyikan tanda majalah habis terjual. Mereka semua bersorak.Tawaran wawancara dan sponsor pun mulai datang.

Para staf merayakannya dengan berolahraga bersama. Olahraganya unik sepakbola dengan aturan seperi base ball. Park Ki ja tampak begitu bahagia, baru kali ini ngeliat Park kija tertawa. Park Ki Ja meminta maaf kepada Seo Woo Jin, dia menyadari dirinya tidak pintar meminta maaf dan berterimakasih. Park Ki Ja berkata bahwa saat dia tahu Seo Woo Jin meminjam uang sampai menggadaikan restorannya dia sebenarnya terharu tapi dia sukar mengakuinya. Ki ja lalu berlari lagi dengan riang.

Son byung yi tentu kesal dengan prestasi Style. Dia mengundang Ki Ja makan bersama. Dia kembali menawari Ki Ja kembali ke pihaknya.Dia ingin menghancurkan Seo Woo Jin tapi dia tentu lebih memilih Style. Ki ja ragu. Style masih mempunyai hutang sebesar 2.1 miliar kepada grup Rian. Itu tidak sebanding dengan uang yang di setor Woo Jin dan harga restorannya. Presdir Son menyindir Ki Ja bahwa tentu akan lebih menyakitkan bagi Ki Ja jika melihat Seo Woo Jin hancur. Ki Ja tidak bisa meninggalkan Style, dia lalu mengembalikan kunci mobil yang pernah dibelikan Son Byung Yi untuknya.

Park Ki Ja kembali stres, perutnya juga sering sakit. Dia datang ke rumah Woo Jin. Saat menyentuh tangan KI Ja dia tahu Ki Ja sedang sakit. Mantan dokter alternatif…gitu loh

“Tanganmu begitu dingin, denyut nadimu juga lemah”.

Woo Jin merawat Ki ja dia merendam kaki Kija dengan air panas. Ki ja kepanasan tapi dengan sabar woo jin terus merawatnya.

“Bukankah akan lebih enak jika kau hidup bersamaku, ada yang merawatmu jika kamu sakit, ada yang membantumu dan menemanimu”, kata Woo jin. Ki Ja pasti tersanjung tapi dia masih ragu.

Lee bang Ja malam-malam datang ke kantor Style. Dia bertemu Ki Ja. Dia berencana memberikan cek kpada Ki Ja. Dia percaya pada kesungguhan Ki Ja dia memberi cek 100 juta won untuk Style. Lee Bang ja berkaa uang itu tidak perlu dikembalikan.

Lee Bang Ja kemudian menemui SEo Woo Jin, dia berkata akan membantu Style dan menjadikannya partner tanpa campur tangan dengan syarat Park Ki Ja harus tetap menjadi Pemimpin Redaksinya. Lee bang ja berkata Park Ki Ja adalah jantung dari Style. Seo Woo Jin berkata Lee Bang Ja tidak perlu khawatir karena Style itu sangat berarti untuk Park Ki Ja.

Seo Woo Jin menemui Park Ki Ja di kantor dia memberikan kabar gembira dari Lee Bang Ja. Bahwa asal Park Ki Ja tetap menjadi Pemimpin Redaksi semua akan beres.

Park Ki Ja lalu berkata

“Kalau begitu kamu bisa mengundurkan diri dari Style”, katanya dingin. Son Byung Yi pasti tak berhenti sampai kamu hancur”

Woo Jin kaget karena tiba-tiba Ki Ja berubah sikap lagi padanya.
Park Ki Ja sebenarya ingin berjuang bersama Woo Jin tapi dia sangat tidak ingin melihat Seo Woo Jin hancur. Dia berusaha menutupi perasaannya terhadap Woo Jin.

Ibu kandung Seo Jung menemui Seo Jung di restoran, dia berkata ingin pergi belajar ke luar negeri. Selam ini dia tidak bisa pergi karena dia ingintahu terus kabar tentang Seo Jung. api sekarang dia ingin fokus pada dirinya sendiri. Dia mengucapkan selamat tinggal pada Seo Jung. Seo Jung menangis dia merasa tas saja lebih berharga dari pada dia. Seo Woo Jin menghiburnya

“Paling tidak ibumu berusaha mengajarkan cara mengucapkan selamat tinggal padamu”, katanya.

Saat pulang ke rumah Seo Jung melihat ada bingkisan untuk dirinya. Dia membuka bingkisan itu, sebuah gaun pengantin dari ibunya. Ibunya ingin ketika suatu saat Seo Jung menikah, anaknya mau memakai gaun itu.

Malam-malam Min Joon memberesi barang-barangnya di kantor. Dia mendengar bunyi hp berdering dari ruang kerja Park Ki Ja. Dia masuk ke sana. Park Ki Ja dia temukan pingsan di lantai.

Min Joon membawa dia ke klinik. Park Ki Ja tidak mau menceritakan apapun tentang kondisinya. Dia hanya berkata anemia ,hemoglobinnya turun karena banyak pendarahan. Sebenarnya kali ini penyakitnya parah, ada tumor di rahimnya yang harus diangkat. Namun resikonya rahimnya jadi tidak normal. Dia tidak akan bisa punya anak.

“Tapi bukankah kau juga tidak ingin menikah bukan?”, kata dokter yang juga sahabatnya.
Min Joon mengantar Park Ki Ja ke rumah. Mereka telah membeli banyak sayuran dan makanan bergizi. Min Joon membantu Ki Ja menyiapkan makan malam. Ki Ja kembali mengatakan dirinya baik-baik saja. Dia berkata akan menjaga kondisinya dengan makan makanan bergizi.
Seo Wo Jin menemui Ki Ja di depan rumahnya. Ki Ja sebenarnya tidak siap bertemu Woo Jin.

“Jadi setelah kamu mendapat partner baru (Lee bang Ja) kamu ingin menendangku keluar?”, kata Woo Jin kecewa.

Dengan kondisinya sekarang Ki Ja berniat melepaskan Woo Jin, Ki ja merasa tak punya lagi harapan untuk menikah dan punya anak.

“Sebenarnya hubungan kita tidak buruk, tapi karena kamu tidak berniat (resmi) menikah lebih baik kita akhiri saja. Kamu uruslah restoranmu. Seo Woo Jin sebagai chef sepertinya lebih menarik”, kata Ki Ja sok dingin.

“Park Ki Ja, kamu pintar sekali mempermainkan laki-laki ya”, Woo Jin kecewa, dia merasa dicampakkan.

Ki ja langsung berlagak berbalik dan pergi.

Setelah Ki Ja jalan beberapa langkah, Woo jin berteriak

“Aku mencintaimu!”. , katanya pada Ki Ja. Langkah Ki Ja terhenti, dia terhenyak. Tapi dia pura-pura tak peduli dan terus berjalan masuk ke dalam rumah. Dia ingat perkataan dokter tentang penyakitnya, hatinya terluka.

Di rumahnya Min Joon pamit untuk pulang. Dia meminta seniornya itu untu mencoba hubungan dengan Seo Woo Jin.

“Ada yang menemanimu makan malam. hidup seperti itu tidak jelek”., kata woo jin

Dia berkata akan pulang ke London beberapa hari lagi.Saat Min Joon akan pergi, Ki Ja memeluk Min Joon.

“Aku dulu mencintaimu”, kata Min Joon

“Aku baru tahu rasanya, dulu pasti kamu merasa kesepian”, Ki Ja sekarang juga merasa dirinya hampa .

“Jangan pergi…”, kata Ki Ja, dia merasa tak punya siapa-siapa lagi sekarang

Di luar ternyata Seo Woo Jin belum pulang. Dia melihat Ki Ja dan Min Joon tengah berpelukan.

Style (Episode 13)


Sinopsis Style
Episode 13


Park Ki Ja berlutut memohon di depan Seo Woo Jin. Dia ingin Woo Jin berunding kembali dengan Lee Bang Ja. Woo jin ragu dia tidak mau kasus ketergantungan dengan group Rian terulang kembali dengan group lain.

“Aku akan menjual seluruh asetku, ataupun tubuhku sekalian jika itu mungkin..”, kata Woo Jin

“Tolonglah, berundinglah lagi..”mata Ki Ja berkaca-kaca.

“Mengapa kamu jadi seperti ini?”, kata Woo jin sambil menyuruh Ki Ja berdiri.

“Karena kita membutuhkan sponsor yang stabil, bukan hanya untuk edisi 202 tapi juga untuk 203 dst”, kata Ki Ja.

Seo Jung pulang ke rumah. Dia bercerita pada Min Joon bahwa tadi dia dan park Ki Ja berlutut di depan seorang nenek untuk mau jadi sponsor bagi Style. Min Joon tak percaya orang seorang park Ki Ja bisa berlutut di hadapan seseorang.

Min Joon menemui Ki Ja di kantornya. Dia menyatakan berhenti bekerja di sana sebagai freelancer. Tapi Min Joon akan tetap membantu Seo Jung sampe proyek edisi 202nya selesai. Dia menggenngam tangan Park Ki Ja dan berharap Park Ki Ja tetap tegar dan kuat.

Park Ki Ja berjuang untuk projeknya. Seo Jung menyiapkan ruangan dan peralatan yang perlu untuk kontes desainer muda. Park Ki Ja menghubungi teman dan relasinya untuk menjadi mentor dan juri bagi kontes desainer itu.

Seo Woo Jin memimpin rapat perusahaan. Uang pinjaman sebesar 9 juta won sudah masuk ke kas Style, sehingga bisa digunakan unuk operasional penerbitan edisi berikutnya. Ki Ja senang, selesai rapat dia memegang bahu woo jin. Wo jin memegang tangan Ki Ja.

Lee Seo Jung hendak mewawancarai Lee Bang Ja. Woo Jin penasaran dengan nenek ini. Dia menitipkan pertanyaan kepada Seo Jung. Dia juga ingin Suo Jung merekam jawabannya karena dia ingin melihatnya langsung.

Min Joon dan Seo Jung datang ke rumah Lee Bang Ja. Wawancara diadakan di kamar pakaiannya. Seo Jung juga membawa video kamera. Nenek itu risi tapi Min joon seperti biasanya berhasil membujuk orang agar relaks di depan kamera. Lee Bang Ja menunjukkan koleksi baju dan tasnya. Dia juga menceritakan kisah dibalik barang-barang kesayangannya.

Lee Seo Jung juga menanyakan pertanyaan pesanan Woo Jin,
Seo Jung menghadap Woo Jin dia membawa rekaman wawancara dengan Lee Bang Ja. Lee Bang Ja berkata dia tidak ingin mengambil alih Style, dia ingin menjadi partner bagi Style.

2 orang karyawan style jadi mata-mata dari Pihak Son Byung Yi. Satu direktur keuangan Su, satu lagi editor senior. Direktur Su tau ada aliran dana besar masuk ke Style. Direktur Su kemudian atas perintah Son Byung Yi mengambil semua uang itu ke kas Rian dengan alasan unuk membayar utang ,karena selama ini Style dibiayai oleh Rian.

Ki Ja menemui langung direkur Su dan menyatakan kekesalannya.

Ki Ja frustasi. Seo Woo Jin rupanya sudah menyangka akan terjadi , dia mencari Ki ja p tak ada di kantor. Dia bertemu Min Joon. Dia bercerita kepada Min Joon jika tidak karena Ki Ja dia tidak akan mau masuk ke manajemen Style.

Woo Jin akhirnya bertemu dengan Ki Ja yang tengah panik. Ki Ja ingin berbicara serius tapi Woo Jin ingin Ki Ka pergi bersamanya selama 2 jam. Woo Jin membawa Ki Ja ke pinggir kota, kepinggir sungai. Dia ingin Ki Ja lebih santai.

“Pemandangan di sini juga udaranya membuat kita akan lebih fresh”, kata Woo Jin. Woo jin lalu mengakui bahwa sebelumnya dia tidak begitu pedulii dengan mimpi ayahnya atau ibunya. jika di Style tidak ada Pemimpin redaksi seperti Park Ki Ja dia tidak ingin masuk ke Style. Woo Jin ingin membantu Ki ja sesuai yang dia bisa. Dia ingin Ki Ja percaya padanya.

” Jangan kau mengemis bantuan kepada Presdir Son ataupun berlutut di depan orang lain lagi”, kata Woo Jin tak rela. Park Ki Ja terharu dan hampir menangis. Woo Jin lalu mencium Ki Ja. Malam itu mereka menghabiskan waktu berdua.

Keesokan harinya Seo Woo Jin menemui Son Byung Yi. Dia ingin uangnya dikembalikan. Dia sempat melihat cover Rian Lux yang memaajang dengan foto kakaknya di covernya. Dia menyindir kakaknya karena diusia yang setua dia masih ingin menjadi cover majalah.

Park Ki Ja mengadakan meeting dengan para editornya. Keuangan mereka tiba-tiba ambruk lagi dia meminta ide dari mereka. Lalu Seo Jung memberi ide untuk menjadikan pembaca setia mereka menjadi investor di majalah. Seo Jung dan Park Ki Ja kerja lembur untuk membuat proposal. Kali ini Ki ja berbaik hati menyediakan kopi untuk Seo Jung.

Draft Edisi 202 telah keluar. Majalah ini sekarang tidak setebal dahulu karena banyak kehilangan halaman iklan. Untuk melawan Son Byung Yi Seo Wo Jin minta foto Lee Bang Ja dipasang sebagai cover majalah. Son Byung Yi panas mengetahui Lee Bang Ja sekarang banyak terlibat di Style.

Style mengundang 30-an pembaca setia mereka termasuk 3 pemegang saham terbesar untuk hadir di program pembiayaan majalah oleh pembaca. Acara berlangsung sederhana di restoran Seo Woo Jin. Lee bang Ja dan Son Byung Yi ikut hadir di sana. Park Ki Ja membuka acara dan menjelaskan bahwa unuk mencegah Style ditutup mereka membutuhkan dana dari para pembaca setia mereka. mereka meminta perstujuan pemegang saham yang hadir di sana. Sro Woo Jin sebagai pemegang saham terbesar 38% setuju. Lee bang ja sebagai pemegang saham ke tiga sebesar 14% pun mengangkat tangannya tanda setuju.

Mereka bertepuk tangan dengan riuh.

Style (Episode 12)


Sinopsis Style
Episode 12


Presdir Son Byung Yi, memang berniat menjatuhkan saudara tirinya Seo Woo Jin walau untuk itu dia harus menghancurkan Style yang pernah dia kelola. Setelah gagal mempertahankan kepemimpinannya di Style, dia akan menerbitkan Majalah mode baru Rian Lux, yang langsung dibiayai penuh oleh perusahaan mallnya Rian Grup. Dia merekrut mantan pemimpin redaksi style Kim Ji Won bergabung dengannya. Presdir Son secara diplomatis juga mengajak Park Ki Ja tetapi Park Ki Ja tidak bisa meninggalkan style begitu saja.

Seo Jung terlambat bangun dia panik, dan meminta min joon memilihkan baju yang cocok untuk dikenakannya. Saat keluar rumah dia melihat sepeda baru keren warna merah.

Min Joon menghadiahkan sepeda untuk SEo Jung sangat senang. Saat Seo Jung pergi, Min Joon berkata dalam hati mungkin itu hadiah perpisahan darinya.

Dengan akan terbitnya Rian Lux ini bebreapa karyawan yang setia pada Son Byung Yi dibajak pindah ke Rian Lux. redaktur senior In Ja ditawari Kim Ji Won pindah ke Rian Lux dia diiming imingi jabatan redaktur pelaksana.

Keuangan lebih parah lagi karena para sponsor yang selama ini kebanyakan relasi Son Byung Hee cabut dari Style.

Park Ki Ja meminta In Ja memimpin para editor untuk bekerja keras dan kreatif mencari tambahan artikel untuk mengisi halaman iklan yang kosong. Kalau bisa tanpa biaya apapun dan tanpa model profesional.

Seo Woo Jin berusaha mencari pinjaman untuk suntikan dana ke Style dia menggunakan restorannya sebagai agunan. Seo Woo Jin juga menghadap Lee Bang Ja, ibu yang secara misterius mendukung dirinya sebagai penerbit style.

Park Ki Ja meminta Woo Jin menemaninya mencari sponsor baru yang meruapakan pesaing Rouen. Atas inisiatif Ki Ja, mereka meng- entertaint GMnya di sebuah klub. GM ini begitu sombong dan tengil dia berkata melecehkan mendiang ibu Seo Woo Jin. Ki Ja menahan tangan Woo Jin agar tidak terpancing. GM itu juga minta Ki Ja menuangkan minuman untuknya. Demi mendapat sponsor Ki Ja melakukannya. Tapi Woo Jin laki-laki dia marah wanitanya diminta menuang minuman.

Pertemuan itu gagal. Woo Jin dan Ki Ja kembali ribut. Ki Ja rela melakukan iu dei para karyawan agar tidak kehilangan pekerjaan. Woo Jin tak rela Ki Ja menggunakan cara-cara seperi itu. Woo Jin berkata dia tak membutuhkan pemred yang demikian. Ki Ja pulang sambil menangis.

Lee Seo Jung secara tidak sengaja juga pernah bertemu dengan Lee Bang Ja, beliau menjadi langganan jahitan ayahnya. beliau suka memperbaiki koleksi branded antiknya di toko ayahnya. Dengan alasan mengantar barang dari toko ayahnya, Seo Jung ingin mengunjungi Lee Bang Ja. Dia memberikan jasa perbaikan gratis agar diperkenankan melihat koleksi-koleksi antik produk terkenal milik Lee bang ja. Seo Jung begitu antusias karena beliau banyak memiliki koleksi terkenal 50 tahun yang lalu. Dia minta ijin untuk menulis liputan ini ke majalah Style.

Presdir Son Byung Yi tidak hanya berhenti di situ saja, dia juga ingin merebut kembali proyek kompetisi desainer muda dari Park Ki Ja. Dia juga memanggil Elly, desainer yang Style incar untuk mau bekerja sama dengannya. Elly orang yg nyentrik dia cuek, bertingkah dan membuat bingung dan kesal Son Byung Yi.

SEo Jung memergoki Elly dipanggil pihak Presdir Son. Ki Ja memerintahkan SEo Jung unuk menunggu dan mengawasi terus Elly. Ki Ja juga lalu datang ke toko Elly. Untuk menghadapi Elly yang cuek dan angkuh dia mengkritik pedas gaun Elly yang dipajang di sana.

Ki Ja menggunting baju pajangan yang tidak dia sukai. Elly panik melihat baju rancangannya digunting begitu saja oleh Ki Ja. Ki Ja berkata dia tidak berniat membeli baju Elly tapi dia tahu Elly desainer muda yang potensial.

Park Ki Ja akhir2 ini terlihat sakit di perutnya, dia minta Seo Jung menyetir mobilnya.

Ki Ja menghadap Son Byung Yi dia meminta maaf dan menawarkan perdamaian soal proyek kompetisi desainer muda. Son Byung Yi sebenarnya ingin Ki Ja kembali padanya tapi dengan syarat dia harus membantu menghancurkan Seo Woo Jin. Jika tidak Style yang hancur, maka restoran Woo Jin yang harus bangkrut.

Park Ki Ja tidak menyangka Seo Jung ternyata mengenal Lee Bang Ja. Dia meminta Seo Jung mengantarnya menemui Lee bang Ja. Park Ki Ja memohon pada Lee bang Ja agar membantu Style yang diambang kehancuran, untuk bisa menerbitkan edisi mendatang saja mereka tidak yakin. Ki Ja berjanji Style akan sangat berterimakasih dan mendukung group perusahaan pimpinan Lee Bang Ja. Seo Jung juga ikut berlutut memohon.

Lee bang Ja berkata bahwa Pimpinan mereka, Seo Woo Jin sebenarnya telah menemuinya. Namun Seo Woo Jin tidak mau terikat dengan perusahaannya.

Park Ki ja mendatangi rumah Seo Woo Jin, dia kali ini berlutut memohon agar Seo Woo Jin menolong mereka dan mau kembali berunding dengan Woo Jin. Seo Woo Jin melunak dan berkata bahwa mereka sudah mempunyai pengalaman buruk dengan terikat pada group Rian (group presdir Son). Dia tidak mengenal Lee Bang Ja dan tidak mau suatu saat kejadian buruk seperti ini muncul lagi. Dia minta Park Ki Ja berkonsentrasi pada proyeknya, jika berhasil tentu itu akan menarik para sponsor bergabung. Woo Jin memegang bahu Ki Ja dan berkata

“Aku akan menolongmu. Kalau perlu aku akan menjual seluruh asetku bahkan tubuhku juga jika mungkin…”

Style (Episode 11)


Sinopsis Style
Episode 11


Park Ki Ja marah melihat Kim Min Joon mendekati Seo Woo Jin. Kim Min Joon berkata ini karena Woo Jin telah mempermainkan Ki Ja. Ki Ja meminta Min joon jangan mengurusi urusan pribadinya dan minta dia pergi dari sana dulu.

Seo Woo Jin juga tidak merasa bersalah dan merasa mampu menjaga dirinya sendiri tanpa campur tangan Ki Ja. Suasana jadi kaku. Ki Ja sebenarnya hanya ingin mengadu karena Son Byung Yi membatalkan proyek pencarian desainer baru. Son Byung Yi mengambil proyek itu darinya untuk dirinya sendiri. Padahal dirinya telah meminpikan projek iu sejak lama. Woo Jin berkata sebenarnya tahu bahwa Ki Ja telah berusaha keras untum membangkitkan kembali Style. Woo Jin sedih karena dia tidak bisa banyak membantu Ki Ja.

Seo Jung senang karena dia tidak jadi dipecat dia membawa teman-temannya maen ke bar. Seo Jung juga kemudian menelepon Min Joon minta dia ikut bergabung karena dia tidak PD berdansa.

Park Ki Ja bertekad mengerjakan royek ipiannya sendiri dia mencoba menggunakan segala usaha nya sendiri. Dia berkoordinasi dengan In Ja dan para editornya untuk mencari desainer muda yang berpotensi dari semua tempat yang mungkin. Park Ki Ja juga mencari sponsor sendiri untuk membiayai kegiatan itu.

Seo Jung sedang hunting item yang menarik untuk majalah.

Dia kemudian tertarik pada lokasi baju di suau rumah, dia masuk ke rumah itu melihat-lihat. Pemiliknya tempat itu seorang wanita , dia melihat gerak-gerik Seo Jung yang mengamati dengan teliti hasil karyanya. Dia menuduh Seo Jung ingin mencuri desainnya. Dia mengancam seo jung dan menggunting baju seo jung tanpa ampun seo jung ketakutan.

Ki Ja kembali menemui Woo Jin dia kecewa karena Woo Jin idak meluangkan waktu pun untuk mengurusi Style. Cuma di restoran terus hehe.

“Kamu sebenarnya ingin Style dibatalkan”, tanya Ki Ja kesal

“Siapa yang mau membatalkannya , aku tidak berniat begitu”, kata Woo Jin. Woo jin berharap Ki Ja mempercayainya, mereka sekarang tidak mungkin melawan dan SOn Byung Yi dan mengandalkan iklannya.

“Carilah segala cara walau harus mengurangi banyak halaman ataupun mencetaknya jadi hitam putih”, kata Woo Jin. Ki Ja kesal.

Seorang wanita paruh baya menemui Woo Jin dia adalah pemegang saham yang secara mengejutkan datang untuk mendukung suaranya bagi woo Jin.
“Aku ini pemegang saham di Style, aku tidak ingin mengalami kerugian,Coba katakan apa rencanamu untuk Style”, ibu itu menantang Woo Jin.

Ki Ja menengok ruangan kerja Min Joon. Min Joon berkata dia berencana keluar dari style telah pekerjaan terakhirnya tuntas. Ki ja mengajak Min Joon makan malam. KI Ja membujuk Min Joon tetap bekerja di Style.

“Jangan sampai kau menutup hatimu lalu kau akan menutup kesempatan karirmu juga”.

Malam itu Woo jin menemui Seo Jung, dia ingin meminta dukungan Seo Jung, Woo jin ingin mulai bekerja di Style.

Seo Jung memasakkan makan malam untuk Min Joon. Dia menunggu min joon tak juga pulang-pulang ke rumah. Ketika Min Joon pulang ke rumah , seo jung sudah tertidur dia masih menghangatkan makanan unuk Min Joon. Min Joon berkata dalam hati jika karena tidak ada Seo Jung tentu dia tidak pulang ke rumah malam ini.

Pagi-pagi Woo Jin sudah menjemput Seo Jung. Seo jung sampai tertidur di mobil. Sebelumya berangkat kerja Woo Jin ingin mengunjungi makam ibunya.

Dia membawakan bunga dan majalah style edisi 201 ke makam ibunya.
“Aku tidak tahu harus berbuat apa ibu, tapi aku akan berusaha keras”

Seo woo jin datang ke kantor style . Pem red dan para direktur menyambutnya. Woo jin langsung mengadakan meeting dengan para direktur dan pemred.

Woo Jin berkata dia berencana melakukan restrukturisasi / perampingan. Ki Ja protes.

“Aku memang tidak tau apa-apa entang majalah, tapi aku tahu manajemen. tidak ada yang bisa dilakukan sekarang untuk menghindari hal itu”, kaWoo Jin.

Desainer unik yang pernah mengguntin baju seojung bernama Elly, Ki Ja sangat tertarik pada desainnya. Dia ingin Ely diajak unuk bergabung dalam proyek kompetisi ini.

Seo Jung mendatangi Ely, kali ini dia berhati-hati, dia merayu dengan membawakan makanan untuk kucing ely.Dia mengajak ely menemui park Ki Ja.

Elly sempat menolak tawaran dia tidak ingin disainernya dijual murah dengan alasan kompetisi.
Ki ja berkata bahwa bagaimanapun desainer akan merasa puas jika karyanya bisa dinikmai banyak orang.

Son Byung Yi memang berniat serius membalas dendam begitu dia tahu Ki Ja juga bersaing dengannya untuk proyek kompetisi desainer muda, dia menarik pemred lama style ke pihaknya.

Ki Ja diundang menemui Son Byung Yi di sana sudah ada seniornya eks pemred Style. Mereka memperlihatkan cover majalahnya yang baru.

Dia membuat majalah tandingan Style…

Style (Episode 10)


Sinopsis Style
Episode 10


Park Ki Ja berkata dia bukan Pemimpin Redaksi jika dia tidak bisa melindungi editornya. Dia merobek draft tulisannya. Dia meminta Seo Jung juga memusnahkan tulisannya karena walaupun bagus Style tidak bisa menerbitkannya. Seo Jung kemudian juga merobek robek draft artikelnya. Mereka berdua terharu. Mereka lalu melemparkan sobekan-sobekan itu ke udara.

Park Ki Ja stress dia minum di bar, dia menghubungi Min Joon. Min Joon datang menemani Park Ki Ja. Park Ki Ja dipusingkan oleh Seo Woo Ji ada yang menurutnya tidak memperhatikan Style sebagai Pemimpin perusahaan dan penerbi. Juga masih ada lagi kasus Seo Jung dituntut desainer Hong dan juga Son Byung Yi yang akan memangkas budget style dan ingin memecat Seo Jung. Min Joon memberikan saran agar Ki Ja keluar saja dari Style

“Memang tidak ada lagi tempat untukmu berkarir?”, nasehat Min Joon
“Aku telah ikut membesarkan style selama 10 tahun”, kata Ki Ja dia merasa tak ingin mengorbankan karirnya di Style.

Ki Ja juga berkata telah banyak dulu yang dia korbankan yaitu Min Joon juga pernikahannya. Padahal dia rindu ingin punya anak dan itu pernah membuanya gila.

Min Joon lalu berkata bahwa dia akan mengakui tentang keadaan dirinya sebenarnya kepada Seo Jung. Ki Ja tidak setuju, dia khawatir keterusterangan itu akan melukai Min Joon

“Di korea tidak semua orang bisa menerima keadaan sepertimu. Pulanglah ke London”, kata Ki ja cemas.

Tapi Min Joon percaya Seo Jung mau mengerti.

In ja, redaktur pelaksana menakut-nakuti anak buahnya , dia tahu bahwa yang ingin menghancurkan karir Seo jung (yang posting tulisan seo jung ke internet) pasti orang yang mempunyai motif tertentu. Dia juga tahu orang itu pasti takut karirnya terhambat oleh Seojung. Jin Sun dan Jae Suk yang merasa bersalah langsung jadi gugup. In Ja juga berkata dia telah meminta rekaman kamera CCTV ruangan editor pada malam itu. Park Ki Ja datang dan berkata bahwa dia juga telah melihat rekaman CCTV. Cha ji Sun dan jae suk gemataran. Ki Ja meminta In Ja membawa Ji Sun menghadapnya. Ji Sun begitu takut. tapi Ki Ja ternyata memberi kesempatan pada Ji Sun. Ki ja memanfaatkan kemampuan Ji Sun yang bisa berbahasa perancis untuk menolong seo Jung dari kesulitan. Dia minta Ji Sun menyelidiki karir desainer Hong di Paris dan mencari apa ada kritik dari pengamat mode di Paris tentang karya disainer Hong.

Seo Jung memikirkan perkaaan Min Joon di jalan. Apa benar dia lelaki yang tidak normal. Seo Jung lalu diam-diam datang ke tempat ibunya. Ibunya memergokinya. Ibunya berkata sebaiknya mereka tidak usah bertemu lagi. Karena akan saling menyakitkan dan takut itu jadi beban baginya.

“Aku akan terus membaca artikelmu di majalah”, kata ibunya. Ibunya beranjak pergi sambil menahan tangis, lalu pergi dengan lelaki lain.

Seo Jung menginap di kantor. dia tidur di sofa kantor sambil menangis memikirkan ibunya. Min Joon datang melihat keadaan Seo Jung.

Min Joon berkata dia ingin mengaku pada Seo Jung. Seo Jung menangis di bawah selimut, dia sebenarnya sedang tidak mau diganggu. Min Joon terus nyerocos bicara. Dia juga menyesal membuat Seo Jung tidak punya tempat tinggal, karena dulu dia yang memberikan saran pada Seo Jung mencarikan ruko buat ayahnya (uang seo jung habis buat bantu ayahnya).

“Memang aku memanfaatkanmu karena Park Ki Ja. Tapi tidak sepenuhnya begitu. aku di sini tidak punya siapa-siapa. Hanya padamu aku merasa bisa bergantung. lelaki tidak sekuat yang kau kira”, kata min joon sambil menangis. Dia mengajak Seo Jung pulang ke rumahnya. Seo Jung luluh dan ikut menangis juga.

Pagi hari Seo Jung bangun terlambat. Min Joon membawakan minuman ke kamar Seo Jung.
Seo Jung merasa nyenyak tidur karena sudah beberapa hari tidur di sofa.

Draft edisi 201 telah keluar. Son Byong Yi dan Ki Ja merasa puas terutama tentang liputan pemotretan Choi Ah Yong. Namun ketika edisi 201 dicetak dan dipubikasikan ada yang membuat mereka kaget. Nama penerbitnya telah diganti menjadi Seo Woo Jin. Son Byung Yi kesal begitu jg Ki Ja karena merasa edisi 201 ini masih banyak peran dari Predir Son Byung Yi. Ki Ja menghadap Son Byung Yi. Son Byung Yi menyerah, dia akan menyiapkan pesta perayaan untuk menyambut pemimpin baru di Style.

Ki Ja menyiapkan pesta itu, dia meminta In Ja mencarikan sponsor dan membuat acara yang pas untuk diliput Style.

Seo Jung melihat foto-foto Park Ki Ja masa lalu yang dia kumpulkan dari Min Joon. Dia tertarik melihat Ki Ja memakai trench coat. Dia mendapatkan ide.

Park Ki Ja kembali menemui Seo Won Jin, dia membawa buket bunga yang istimewa. Woo Jin berkata restoran bukan catwalk yang seenaknya Ki Ja bisa datang dan pergi kapan saja. Ki Ja memberitahukan akan ada acara perayaan pengangkatan woo jin sebagai pemimpin perusahaan. Dia memberikan buket bunga tapi memberikan nya dengan gengsi, katanya dia takut dia tidak bisa memberi selamat pada acara perayaan karena sebal terhada Woo Jin.

Saat Ki Ja akan pergi Woo Jin bertanya

“Mana yang lebih kamu sukai Woo Jin sebagai manusia, sebagai lelaki atau sebagai Pemimpin majalah Style?”

“Kalau kamu mana yang kamu sukai Ki Ja sebagai manusia, sebagai wanita atau sebagai emimin redaksi?”, Ki Ja balik bertanya.

“Yang paling sedikit sukanya adalah Ki Ja sebagai pemimpin redaksi”, jawab woo jin.

“Aku juga begitu. Woo Jin sebagai pemimpin majalah style adalah suatu kegagalan”, kata Ki ja langsung pergi.

Di Kantor, Seo Jung mengajukan idenya untuk tema gaya edisi 202. Dia ingin mengangkat tema trench coat. Trench coat yang terkesan maskulin sangat mencirikan kehidupan seorang editor. Dia ingin para editor yang menjadi modelnya juga untuk menghemat budget.

Para editor bersiap-siap pergi ke acara perayaan di Incheon. Seo Jung dan Min Joon tidak ikut, mereka bertugas menyiapkan acara pemotretan. Acara pemotreatan dilakukan nanti setelah acara perayaan. Son BYung Yi dan Ki Ja akan pergi ke Incheon bersama-sama. Son Byung Yi tiba-tiba berubah pikiran dia minta acara perayaan dibatalkan.

Ki ja tidak bisa menghubungi Woo Jin, dia meminta Seo Jung mencari Wo Jin. Woo Jin ternyata terlanjur datang ke tempat acara dan kesal karena mendapati ruangan yang kosong.

Woo Jin tidak mau datang ke Incheon dengan tangan hampa dia juga ingin secara resmi bertemu dengan staf lainnya. Dia bersama Seo Jung datang ke tempat staf akan melakukan pemotretan.

Dia lalu memperkenalkan diri sebagai pemimpin /penerbit Style yang baru.

Ki Ja dan Son Byung Yi juga datang ke pemotretan, mereka heran melihat woo jin ada di sana

“Aku ingin menengok karyawanku di sini”, Woo jin menantang.
Son Byung Yi juga melihat Seo Jung ada di sana

“Bukankah aku memintamu untuk memecatnya?” kata Son byung yi pada Ki Ja. Kija bingung, woo jin memotong bahwa para editor Style sudah dalam wewenangnya sekarang. Kakaknya tidak berhak ikut campur. Son Byung Yi kesal, dia juga menganggap Ki Ja sudah mengkhianatinya

“Aku tidak akan melupakan kejadian hari ini”, kata Son mengancam Ki Ja.
Acara pemotretan dilaksanakan. para staff menjadi modelnya, mengenakan trench coat

Seo Jung sudah mengepak barang-barangnya dia sudah siap jika harus dikeluarkan dari Style. Ki Ja dan Cha Ji Sun punya kejutan untuk Seo Jung. Majalah Style di Perancis menulis kritik tentang desainer korea Hong. Park Ki Ja ternyata mengirimkan tulisan Seo Jung ke editor fashion Style di Perancis, mereka mempelajari tulisan Seo Jung. Kasus seo jung bisa dianggap selesai. Seo Jung lega dan bahagia dia berterimakasih pada Ji Sun dan Park Ki Ja karena dia tetap bisa bekerja di Style.

Min Joon berkata pada Seo Jung bahwa hasil foto Woo Jin lumayan bagus dan layak diterbitkan untuk menunjukkan pimpinan Style yang baru. Seo Jung setuju dan meminta Min Joon sendiri yang menunjukkannya pada Woo Jin.

Min Joon mendatangi Woo Jin di restoran dengan membawa hasil foto-foto. Woo Jin sebenarnya tidak suka bertemu Min Joon. Min Joon berkata demikian juga dengannya. Pada saat yang sama Park Ki Ja juga ingin menemui Woo Jin, dia frustasi karena presdir Son sepertinya membalas dendam kepadanya dengan membatalkan proyek yang selama ini dia rencanakan. Sampai di restoran Ki Ja kaget melihat Min Joon berdekatan dengan Woo Jin dengan cara yang tidak “biasa”

Style (Episode 9)


Sinopsis Style
Episode 9


Park Ki Ja datang menemui Kim Min Joon di rumahnya. Dia langsung menuju kamar Min Joon dia kaget melihat Min Joon dan Seo Jung terlihat seperti bermesraan di kamar. Dia mengetuk pintu.

Seo Jung kaget dan berkata bahwa dia sedang menyelesaikan artikelnya dan minta bantuan Min Joon di sini. Tapi Min Joon memotong dan berkata Seo Jung tinggal bersamanya di sini.

“Kita hidup bersama”, Min Joon berusaha memancing kecemburuan Ki Ja. Seo Jong kaget mendengar ucapan Min Joon . Dia merasa risi dan buru-buru keluar dari kamar. Ki ja sadar bahwa tindakan Min Joon selama ini mencoba membuatnya cemburu.

“Bagaimana jika Seo Jung suka padamu?”, Ki Ja memperingatkan. Ki Ja tidak ingin sesuatu yang telah menimpanya juga terjadi pada Seo Jung. Min Joon kesal pada Ki Ja yang berusaha mencampuri urusan pribadinya.

Ki Ja berkata bahwa dia sampai sekarang tetap single bukan karena menunggu Min Joon tapi karena tidak pede lagi untuk berhubungan dengan laki-laki lain. Min Joon berkaca-kaca dia berkata bahwa dia sengaja datang ke korea untuk mencari Ki Ja dan ingin memulai hari baru dengan Ki Ja karena masih mencintai Ki Ja. Dia minta Ki Ja putus dengan Woo Jin.

Woo Jin di rumahnya memikirkan kata-kata Ki Ja tadi kepadanya
“Jika kita tidak pernah tidur bersama hubungan kita tidak akan sejauh ini”, kata Ki Ja. Setelah Ki Ja pulang, Seo Jung berkata bahwa jika Min Joon memilih dia untuk membuat Ki Ja cemburu, maka Min Joon salah orang. “Kamu masih mencintai Park Ki Ja bukan?”

Menurut SEo Jung, dia bukan tipe wanita yang bisa membuat Ki Ja cemburu, karena Ki Ja merasa Seo Jung tidak ada apa-apanya. Seo Jung mengepak barang-barangnya pagi-pagi dan membawanya pergi ke kantor.

Seo Jung menemui Park Ki Ja dan berkata bahwa kejadian tadi malam tidak seperti yang dia sangka.

“Kalian berdua ini laki-laki dan wanita dewasa bukan?”, sahut Park Ki Ja. Kamu sebagai perempuan harus punya harga diri dan citra. Tidak mudah begitu saja bisa tidur di kamar Woo Jin atau mau ditawari tinggal bersama laki-laki tanpa status. Karena bagaimanapun perempuanlah yang akan jadi korban. Kamu harus punya tameng, dan pekerjaan juga merupakan tameng bagi perempuan” lanjut Park Ki Ja.

Setelah presdir Son Byung Yi sudah tidak lagi menjabat sebagai pemimpin perusahaan di Style, Park Ki Ja selain memimpin redaksi dia juga banyak menangani masalah umum. Seo Woo Jin belum sekali pun ke kantor dia masih asyik di restorannya. Park Ki Ja mengajukan budget bulanan pada Presdir Son Byung Yi (dia masih presdir di group yang lain yang selama ini mendanai Style), tapi dia minta budget Style dikurangi sampai 10%nya. Dia tidak peduli bagaimana Ki Ja mengurusnya. Ki Ja pusing.

Ki Ja menemui Woo Jin Woo Jin malah jual mahal, jika ini menyangkut pekerjaan dia akan datang seminggu sekali dan memimpin rapat. Dia tidak mau urusan restorannya diganggu, dan tak mau bertemu Ki Ja tanpa janji lebih dulu. Ki Ja kesal karena dia seperti dianggap orang yang ga ada kerjaan.

Ki Ja menanyakan progres Seo Jung. Dia masih menyusun materi untuk model Choi Ah Young. Dia juga sudah menyiapkan bahan wawancara untuk Ki Ja. Ki Ja mengambilnya dengan kesal.

Park Ki Ja tidak menyerah, dia menunggu jadwal lari Woo Jin dan kali ini telah siap dengan kostum joggingnya dan sepatu olahraga. Woo Jin mengkritisi busana Ki Ja.

“Kamu ini mau show apa mau aerobik?” . Ki Ja mengajak Woo Jin berbicara serius bahwa anggaran mereka telah dikurangi 20 %. Woo Jin tetap cuek.

”Apa kamu mau membiarkan staf kita kehilangan pekerjaannya? Jika kamu main-main dengan Style lebih baik tinggalkan saja jabatanmu”, Ki Ja kesal. Woo Jin menyuruh Ki Ja pergi karena ini urusannya.

Ki Ja menegur Seo Jung yang pagi-pagi ketahuan mandi dan nginep di kantor.
“ini bukan kamar atau pun ruang tamu. cepat ganti maju dan pake make up”. kasian seojung dia ga punya tempat tinggal sekarang.

In Ja, redaktur pelaksana yang baru kesal karena para redaktur / editornya, karena setelah ditinggal Ki Ja mereka seperti males-malesan dan ga ada takutnya. Saat meeting banyak yang tidak ada progres terutama dari tim fashion / mode. Seo Jung yang paling rajin. Dia mengancam akan merombak tim mode dan kecantikan.

Park Ki Ja tidak menyerah kalau perlu dia akan mengadu Presdir Son Byung Yi dengan Woo Jin. Dia menjadwalkan Woo Jin ke pertemuan para pemimpin majalah mode.

Woo Jin menelepon Seo Jung yang mengaku sedang lembur. Woo jin kekantor dan berbincang denganSeo Jung dan menanyakan keadaannya. Dia juga mencari tahu tentang penghasilan para editor dari Seo Jung.
Malam itu Min Joon ke kamar Seo Jung dia kangen ama Seo Jung. Dia pergi ke kantor, tapi dia malah mendapai Woo jin sedang bersama Seo jung. Min Joon kali ini sudah tidak bisa bersabar lagi.

“Sedang apa kamu di sini. Apa kamu tidak cukup dengan Park Ki Ja dan sekarang mau mengambil Lee Soe Jung”, Min Joon menahan Woo Jin
“Siapa kamu? kamu dulu bersikap seperti pacar Ki Ja terus sekarang Seo Jung. Atau… kamu tertarik padaku?”, Woo Jin memprovokasi Min Joon. Min Joon benar-benar tersinggung dia memukul Woo Jin. Woo Jin membalasnya. Mereka bertengkar di dalam kantor , Seo jung panik.

Dia menghampiri Woo Jin yang terluka tapi Min Joon langsung berkata
“Seo Jung…Seo Woo Jin sudah penah tidur dengan senior Park. Brengsek yang kamu puja ini pacar dari senior Park. Usahamu akan sia-sia saja”, Min Joon membocorkan rahasia Woo Jin. SEo Jong syok. Woo jin tak bisa berkata apa-apa. Seo Jung sedih dia berlari pergi. Min Joon mengejarnya.

Park Ki ja datang e kantor dan heran liat ketegangan di kantor.

“Ada apa ini?”, tanya Ki Ja heran

“Luka yang kamu torehkan padaku selalu berakhir luka di pihak seo jung. Perasaanku ini harus diakhiri di sini”, kata Woo Jin menerangkan. Ki Ja masih bingung.

Min Joon berusaha menahan Seo Jung dan menghiburnya tapi Seo Jung marah.

“Kamu dan Seo Woo Jin kalian sama saja!Senior, kamu menyukai boss dan ketika ada masalah, kamu membawa aku ke tengah-tengah seperti sandwich. Kalian terus datang padaku hingga pikiran kalian tenang. Aku benar-benar telah dibodohi!”, Seo Jung beneran ga terima. Malam itu Seo Jung ingin tidur di ruko ayahnya.

Seo Jung sempat melihat ibunya hari ini, dia bertanya tentang cinta pada ayahnya.

Seo Jung sudah menikmati hari-harinya sebagai editor majalah mode. Pakaiannya udah keren sekarang. Dia juga tak kenal lelah berkeliling window shopping mencari item dan asesoris yang menarik juga mengamati gaya busana orang-orang untuk materi artikelnya. Sekarang ternyata ada staf yang lebih muda dr Seo Jung, dia juga rajin, editor yang lbh senior malah terkesan males mereka sering ngegosip.

Seo Woo Jin akhirnya mau menghadiri pertemuan pimpinan majalah mode di Incheon dia datang dengan Park Ki Ja dan direktur keuangan. Isu yang dibahas mengenai iklan-iklan yang banyak menghiasi majalah mode. Sebagai pemimpin perusahaan Seo Wo Jin mempunyai visi menjadikan Style majalah mode yang simpel dan independen tidak terlalu bergantung pada iklan ataupun perusahaan induknya tapi lebih bergantung kepada jumlah tiras dan sirkulasi .

“Untuk itu hal ini membutuhkan kecakapan lebih dari seorang pemimpin redaksi”, kata Seo Wo Jin sambil menantang Park Ki ja. Selesai rapat Park Ki Ja protes , menurut dia majalah mode selama ini tidak dapat dielakkan dari iklan.

“Dari pada jadi majalah yang dipenuhi iklan dan kamu dipusingkan dengan harus menarik iklan lebih baik pikirkan secara objektif ideku”, kata Woo Jin . Ki ja benar-benar tak mengerti dan kesal.

“Kau tidak mengerti lebih baik kau kembali jadi pengupas kentang saja! “. Mereka bertiga bermaksud pulang kembali ke Seoul. Tapi tiba-tiba mobil Seo wo jin bermasalah. Ternyata sebelumnya direktur hong sengaja mengerjai Woo Jin dan Ki Ja, dia merusak mobil Woo jin. Woo Jin dan Ki Ja harus sempit-sempitan di mobil sport yang hanya untuk 2 orang.

Woo Jin risi ingin naik taksi tapi mereka terlanjur masuk jalan tol. Woo Jin terpaksa mangku Ki Ja, dia protes karena Ki Ja berat. Ki Ja juga protes ga mau deket2 Woo Jin.

Kim Min Joon cape marahan terus sama Seo Jung, dia mengajak Seo Jung berbaikan.

“Lalu kamu mau ngajak aku pindah ke rumahmu lagi?”, kata Seo Jung sinis.

“Aku ngaku alasanku ngajak kamu pindah karena Park Ki Ja, tapi bukan hanya itu”, kata Min Joon. Soe Jung tetap sinis

“Jika aku berkata aku tidak seperti laki-laki normal lainnya. kamu mau percaya?”, kata Min Joon. Seo Jung cuek. “Jika aku mati apa kamu akan percaya!”, ulang Min Joon bener2 serius.

Para redaktur senior mulai iri pada Seo Jung mereka mengerjai draft artikel Seo Jung yang mengkritisi hasil karya desainer. Tulisan yang belum dikoreksi itu tiba-tiba muncul diinternet dan digugat oleh desainer ybs. Redakur pelaksana In Ja dan Seo Jung dipanggil Ki Ja. Seo Jung bagaimanapun diminta bertanggung jawab, dia masih baru tapi berani mengkritisi desainer nomor 1 di korea. In Ja yakin pelaku penyebarannya orang dalam, dia juga harus nemuin siapa yang masukin tulisan Seo Jung ke internet.

Berita ini sampai ke telinga presdir Son Byung Yi. Dia marah karena desainer itu pemasok utama iklan dan produk ke departmen store mereka. Dia ingin Ki Ja dipecat. Ki Ja ragu karena walau tulisan Seo Jung terlalu blak-blakan tapi isinya berbobot dan unik. Son Byung Yi menyindir prinsip Ki Ja karena hal itu bisa membuat Style bangkrut.

Woo Jin juga tau berita ini. Dia menelpon Seo Jung tapi tidak aktif. Dia mengundang Ki Ja makan siang. Dia memasakkan masakan khusus buat Ki Ja. Tapi begitu Woo Jin tentang Seo Jung dia langsung ga jadi makan. Dia menyindir apa Woo Jin bener peduli sama Style dan tau kalao Seo Jung mau dipecat Son Byung Yi. Woo Jin kaget karena Style sudah jadi urusannya. Tapi Ki Ja memandang Woo Jin belum bisa berbuat apa-apa.

Ki Ja memanggil Seo Jung dan minta dia ikut dengannya dengan membawa draft tulisannya itu. Mereka berada di luar. Ki Ja ternyata membawa draft tulisan pertamanya untuk kolom pemred.

“Aku tidak bisa dikatakan pemred kalau tidak bisa melindungi editorku sendiri”, kata Ki ja, Ki Ja merobek draft tulisannya. Seo Jung kaget. Ki Ja berkata tulisan Seo Jung berbobot dan unik tapi Style tidak mungkin menerbitkannya. Karena Seo Jung yang menulisnya dia ingin Seo Jung sendiri yang memusnahkan tulisannya.

Seo Jung pun merobek draft tulisannya. Mereka berdua sedih dan terharu .

Mereka lalu melemparkan sobekan kertas-kertas itu ke udara.

Style (Episode 8)


Sinopsis Style
Episode 8


Lee Soe Jung dan Seo Woo Jin bersiap-siap melakukan bungee jumping bersama-sama. Woo Jin memegang tangan Seo Jung.

Woo Jin menghitung “1…2…3″

Mereka pun loncat bersamaan.

“Aaaaaaa”.

Setelah selesai Soe Jung bercerita dulu dia awalnya bangga mewawancara langsung pemred Pak Ki Ja, tapi kali ini dia menyerah. Dia bercerita pas woo jin ttg rencana Ki Ja terhadap comeback top model Choi A Young.

Woo Jin bercerita bahwa bungee jumping dulu asalnya dari amerika selatan yang dipakai untuk ritual menantang menuju kedewasaan. Woo Jin selama ini merasa selalu menyembunyikan asal usulnya. KiJa lah yang berani mengkrtiknya bahkan memojokkannya. Ini mungkin sama saja tantangan baginya agar lebih dewasa. Woo Jin merasa dirinya sudah lebih baik dan mempersilahkan Seo Jung mengikuti rencana Ki Ja.

Seo Jung pulang ke rumah dia makan bersama dengan Min Joon. Stelah itu dia membicarakan rencananya untuk meneruskan wawancaranya dengan Park Ki ja, karena dia tetap merasa bossnya orang yang layak untuk diwaancara. Dia sebenarnya takut juga dimarahi tapi dia tetap akan maju. Min Joon memuji Seo Jung yang semakin dewasa.
“Aku khan telah melalui ritual kedewasaan”.

Pengacara ayah SEo Woo Jin telah memberitahukannya soal warisan dari ayahnya. Dia memnta SEo Woo Jin datang ke rapat luar biasa para pemegang saham dan mengambil jabatan komisaris juga direksi di Style.
Seo Woo Jin ragu karena merasa di belum berpengalaman dan kurang tertarik.

Presdir Son sedang menghitung-hitung kekuatannya dan Woo Jin. Di Style adiknya itu kini memiliki saham lebih banyak darinya karena mendapat warisan dari ayahnya. Dia juga mengkhawatirkan seseorang lagi.

Ki Ja sedang menulis kolom pertamanya sebagai pimpinan redaksi majalah Style. Seo Jung datang membawakan kopi dan mengutarakan maksudnya dengan hati-hati bahwa ia akan ingin mewawancarai bossnya kembali. Seo Jung minta maaf pada Ki Ja.KI Ja menganggap Seo Jung menganggapnya terlalu mudah. Tapi akhirnya dia memberi kesempatan pada Seo Jung juga meminta dia menyiapkan materi untuk pemotretan Choi Ah Young.


Seo Jung telah membuka outlet tailornya. Kap Joo dan Seo Jung datang ke pembukaannya.

Ki ja minta Seo Jung mengatur pertemuan dengan Top model Choi Ah Young di restoran Woo Jin, dia juga mengajak Seo Jung yang menyusun materinya. Sebelum bertemu dengna Choi , Ki Ja bertemu dengan Woo Jin. dia minta Woo jintidak masuk ke jajaran pimpinan Style karena dia hanya seorang koki. Choi datang dan melakukan pertemuan dengan Ki Ja. Dengan diplomasinya yang taktis Ki Ja berhasil membuat Choi setuju dengan rancangan mereka tanpa perlu melibatkan woo jin dalam pemotretan. Seo Jung terkesan dengan Ki Ja.

Min Joon bertemu dengan Woo jin mereka kembali terlibat dalam perseteruan. Min Joon pulang ke rumah dengan kesal. Se Jung di rumah tak sengaja membicarakan Woo Jin. Min Joon juga ikut kesal pada Seo Jung. Keesokan harinya Min Joon berusaha baik lagi pada Seo Jung, dia membawakan makanan pada SEo Jung yang sedang lembur.

Ki Ja mengetahuinya. Mereka jug menawarkan makanan pada Ki Ja. Tapi Ki Ja terlalu gengsi padahal dia lapar juga.

Untuk mempertahankan dukungan Park Ki Ja presdir Son mengajak Ki Ja berjalan-jalan melihat bisnis groupnya. Dia merasa Seo Woo Jin juga mengincar jabatan pemimpin umum Style. Selama ini departemen store mereka menjadi penyandang dana bagi Style. Dia juga membelikan Ki Ja sebuah mobil sport baru.dia juga Ki Ja merasa tidak enak.

Tapi Presdir bilang dia tidak bisa menyetir mobil sport lagi dan ingin Ki Ja membawanya ke rapat pemilihan direktur dengan mobil itu.
Seo Woo Jin berhasil menjadi direksi dan ketua dewan komisaris di group perusahaan ayahnya Ki Ja merasa khawatir.

Ki Ja mendatangi Woo Jin ke tempat pembuatan garam milik Woo Jin. Dia tidak mau Woo Jin juga ikut campur dalam Style, karena takut style berantakan karenanya, karena Ki Ja merasa telah membangun Style dengan susah payah dari awal. Woo Jin sebenarnya tidak mau ribut lagi dan ingin menghindar dari adu mulut. Ki ja mengejarnya melalui pematang kolam yang kecil. Dia yang memakai sepatu hak tinggi jatuh terkilir. Woo Jin terpaksa mengobatinya dengan akupuntur dan berkata sebenarnya tubuhnya menjerti karena dipaksa terus memakai hak tinggi. Ki Ja masih gengsi jika harus diobati Woo Jin.

Woo Jin mengajak Seo Jung makan malam. Dia meminta pendapat Seo Jung mengenai kemungkinan dirinya masuk jajaran pimpinan Style. Seo Jung berharap Woo Jin dapat memperlakukan Style sebaik dia memperlakukan makanannya. Dia mendukung Woo Jin untuk mempelajari hal-hal baru tentang majalah fashion. Woo Jin berkata bahwa Majalah Style adalah impian ibu dan ayahnya. Sehingga bagaimanapun dia harus terlibat.

Menjelang pemilihan pemimpin umum di Style terlihat tegang. Para pendukung Woo Jin menggunakan baju putih-putih dan para pendukung Son menggunakan baju warna hitam termasuk Park Ki Ja. Di ruang ganti Seo Jung mengenali ada tas dan baju Reoun koleksi yang sudah jarang ditemukan. Dia penasaran apa itu produk yang asli atau imitasi.

Ternyata tas dan baju itu milik Nyonya seorang pemegang saham Style yang akan hadir di rapat pemilihan pimpinan style yang baru. Nyonya itu biasanya tidak pernah datang ke RUPS hari itu dia tiba-tiba datang berpakaian putih mendukung Woo Jin. Son dan Ki Ja stres. mereka kalah suara.

Mantan pemimpin umum Style, Son meminta Ki Ja mengundang Woo Jin makan malam. Ki Ja mencari Woo Jin yang ternyata sedang pindah rumah. Dia dengan sinis menyampaikan undangan Son kepada Woo Jin. Kakak tirinya Son, mengenalkan secara resmi pemimpin redaksi majalah Style Park Ki Ja. Kakak tirinya minta Woo Jin memperhatikan masukan dan saran Ki Ja dalam menjalankan kepemimpinannya di Style.

Setelah makan malam Ki Ja dan Woo Jin masih terlibat perang dingin. Walaupun begitu Woo Jin ingin Ki Ja mengantarkannya ke kantor Style untuk berjalan jalan. Dia menunjukkan kantor redaksi Style dan tempat para editor/redaktur bekerja. Sambil di kantor Ki Ja terus memojokkan Woo Jin bahwa apapun jabatan Woo Jin di Style tak akan berpengaruh baginya.
“Penggantian itu sama hal nya seperti mengganti warna cat kuku”, kata Ki Ja meremehkan.

Woo Jin kesal terus dipojokkan dan diremehkan Par Ki Ja. Dia ingin menghentikan mulut Ki Ja yang bawel dia mencium Ki Ja. Woo Jin berkata dia hanya membalas apa yang pernah Ki Ja lakukan padanya dulu. Woo Jin juga membalas bahwa pernah tidur bersama Ki Ja atau berciuman juga sudah tidak berarti apa-apa.

Min Joon juga ternyata belum pulang dari kantor. Dia melihat Woo Jin mencium Ki ja dan mendengarkan pembicaraan mereka. Min Joon cemburu dan patah hati.

Min Joon mendatangi rumah Ki Ja. Ki Ja tidak menyangka kedatangan Min Joo yang terlihat aneh. Min Joon juga serta merta ingin mencium Ki Ja, Ki ja sempat menghindar dan menamparnya. Min Joon kecewa dia berkata dia melihat Ki Ja dan Woo JIn tadi di kantor dan mendengar pembicaraan mereka. Min Joon menangis membicarakan cinta mereka dulu dengan Ki Ja. Ki Ja menyalahkan Min Joon bahwa hubungan mereka dulu tidak bisa dipertahankan dan dilanjutkan lagi karena Min Joon.

Min Joon pulang dengan perasaan remuk. Sampai di rumah dia langsung masuk kamar. Seo Jung yang melihatnya heran. Dia mengetuk kamar Min Joon dan memintanya makan malam. Min Joon sedang tiduran dan menyuruh Seo Jung masuk. Seo Jung kaget melihat Min Joon tengah menangis. Min Joon curhat bahwa dia dulu datang ke korea karena kesepian lalu pergi mencari sesuatu yang dia dambakan.
“Tapi kini yang aku dambakan telah hilang. Dan tak mungkin aku memilikinya lagi”, kata Min Joon sambil menangis.

Seo Jung berusaha menenangkan Min Joon sambil memegang tangannya, Seo Jung juga menghapuskan air matanya. Min Joon ingin bersandar di bahu Seo Jung.

Park Ki Ja merasa bersalah pada Min Joon, lalu dia menuju rumah Min joon. Dia ke kamar Min Joon dan kaget karena Min Joon tengah berdekatan dengan Seo Jung di kamarnya.

Style (Episode 7)


Sinopsis Style
Episode 7


Secara tak disangka, Lee Seo Jung paling banyak mendapatkan dukungan stiker untuk busana terbaik mengalahkan Park Ki Ja. Seo Jung maju ke depan podium, hadiah tas Rouenrakan diberikan oleh Pemimpin redaksi baru Park Ki Ja. Di atas panggung mereka berdua tersenyum dengan penuh kepura-puraan mereka masih mendendam satu sama lain.

Min Joon menemui Woo Jin dia benci pada Woo Jin. Woo Jin menyindirnya karena terlihat sekali naksir Ki Ja. Woo Jin berkata aku tak kan pernah mencintai wanita sampai harus menangis. Di akhir acara Woo Jin ingin Ki Ja mengakui bahwa Ki Ja mengundangnya dia tak mau dimanfaatkan. Ki Ja tak mau mengakui itu di depan Pres dir Son. Woo Jin marah dan berkata bahwa setelah ini hubungan mereka berakhir. Seo Jung kasihan pada Woo Jin dia menarik Woo Jin untuk pulang. Min Joon berkata bahwa awalnya dia berniat menghadiahkan gaun edisi terbatas itu untuk Ki Ja karena dia yakin sesuai untuk acara ini, tapi Min Joon berkata bahwa tiba-tiba dia tidak ingin memberikannya untuk Ki Ja.

Di mobil Seo Jung mencoba menghibur Woo Jin. Seo Jung menemani Woo Jin Sambil berkliling-keliling mengemudikan mobilnya dia bercerita tentang cara dia menghibur dirinya dari ayahnya. Woo Jin mengantarkan Seo Jung sampai ke daerah rumahnya.

Ki Ja telah menunggu Woo Jin di depan rumahnya. Woo Jin kesal.

Ki ja beralasan hal itu bisa menguntungkan bagi dirinya juga Woo Jin. Dia bisa tetap sukses karirnya, Woo Jin bebannya skandalnya akan lama-lama menghilang. Woo jin tetap marah. Ki Ja juga akhirnya kesal dia bilang tidak mau pria cengeng.

Pagi hari Seo Jung pusing riasan dan busana apa yang akan dipakainya ke kantor, dia terbebani dengan julukan busana terbaik. Dia ingin memakai tas Rouennya dan bingung busana yang sepadan untuk tasnya. Di lift dia bertemu Park Ki Ja. Ki Ja menyindirnya Seo Jung yang sekarang belum pantas memakai produk Rouen dan malah bisa merusak citra Rouen. Dia menyuruh Seo Jung untuk menyimpan tas itu dulu di lemari sampai dia pantas memakainya. Di kantor dia langsung menyembunyikan tas itu.

Park Ki Ja dan Presdir menemui perwalikan Reoun, mereka kembali akan bekerja sama dengan Style. Untuk peluncuran produk barunya mereka ingin top model Choi yang sudah lama tak muncul di korea.

Di kantor, editor senior naik jabatan jadi assisten pemimpin redaksi. dia memimpin rapat menentukan tema edisi 201. Mereka memutuskan untuk menulis artikel tentang para pemimpin redaksi di dunia fashion. Mereka juga akan menulis tentang Par Ki Ja. Lea Seo Jung berkata dia tertarik menulis artikel tentang bosnya itu. Park Ki Ja setuju.

Para pemimpin redaksi majalah di korea suka mengadakan pertemuan Park Ki Ja memutuskan rapat di restoran. tapi Woo jin masih kesal, Ki Ja beralasan dia juga menolong restoran Woo Jin agar populer. Saat rapat pemred dari korean double kembali memanas-manasi Style.

Untuk tulisannya tentang Park Ki Ja, Lee Seo Jung berusaha mencari awal karir Park Ki Ja. Kim Min Joon memberinya bantuan dia kembali mengajak ke rumahnya, di kamarnya ada foto-foto Ki Ja ketika menjadi model di London. Dia terkesan dengan foto-foto Park Ki Ja. Kim Min Joo kembali menawarkan SEo Jung untuk tinggal di rumahnya agar lebih mudah menyusun artikelnya. Seo Jung sebetulnya memang sedang butuh uang untuk ayahnya dan bisa tinggal gratis sementara bisa membantunya.

Ayah Seo Woo Jin dan juga ayah Pres dir Son meninggal dunia. Seo Woo Jin berduka juga, dia ingin melayat ke pemakaman ayahnya tetapi diusir oleh saudaranya Presdir Son.

Park Ki Ja tidak punya waktu menengok Woo Jin atau datang ke pemakaman dia masih sibuk bekerja. Dia ada rapat dengan top model Choi. Dia mau kembali ke dunia model korea dan bekerja sama dengan Park Ki ja. Top model ini dikabarkan telah bercerai dengan suami kayanya dan kembali lagi dari amerika ke korea.

Ki Ja membicarakan konsep foto Choi dengan Min Joon. Seo Jung juga dilibatkan dalam proyek ini. Seo Jung memikirkan Woo Jin dia simpati dan sebenarnya ingin menemani Woo Jin, dia meminta tanggapan Min Joon. Min Joon dengan sedikit kesal berkata kadang laki-laki perlu sendiri.Seo Jung akhirnya bersedia tinggal di rumah Min Joon. Min Joon telah membuatkan peraturan mereka tinggal bersama. Mereka masing-masing dilarang membawa pasangan heteroseksual ke rumah. Juga tidak boleh mengambil untung. Seo Jung setuju tapi dia minta aturan untuk relaks, mereka berdua akhirnya main game Wii tinju seruan-seruan berdua. Seo Jung kalah dia kecapean.

Pagi hari, Ki Ja sudah menunggu Woo Jin di depan rumahnya ingin berbaikan. Woo Jin lari pagi, Ki Ja walau pake hak tinggi berusaha mengejar Woo Jin. Woo Jin saking kesalnya bilang, dia memeluk Ki Ja berkali-kali juga tidak akan merasakan apa-apa lagi. Dia membuktikannya dengan memeluk ki ja terus langsung pergi.

Woo Jin ke sisi danau tempat abu ibunya disebar. Dia berkata ibunya mungkin bahagia karena orang dicintainya sudah menemaninya.

Ki Ja disertai Min Joon dan Seo Jung menemui top model Choi untuk membicarakan konsep foto mereka. Choi tidak setuju. Ki Ja menawarkan hal lebih dramatis untuk comeback Choi di korea. Dia menawarkan konsep yang sama dengan yang pernah dilakukan mendiang ibu Seo Woo Jin. Isunya mereka berdua hampir sama top model yang pernah menikah dengan orang kaya dan pergi ke luar negeri.

Min Joon dan Seo Jung heran dengan konsep Ki Ja. Mereka belum minta ijin atau setidaknya membicarakan hal ini dengan Woo Jin. Mereka menganggap Ki Ja tak punya perasaan karena lebih-lebih Woo Jin sekarang sedang berduka. Mereka ribut dan turun dari mobil. Seo Jung kesal dan berkata dia benar-benar tidak bisa mengerti Park Ki Ja sekarang dia menolak meneruskan wawancaranya dengan Park Ki Ja karena dia tidak bisa mengerti kelakuan orang diwawancarainya.

Seo Jung datang menemui Woo Jin dia mengucapkan belasungkawa. Mereka lalu berjalan-jalan mencari udara segar. Woo Jin ketepi danau. Woo Jin berkata bahwa ini tempat abu ibunya disebar. Mereka berdua kebetulan sedang terbebani masalah Park Ki Ja. Seo Jung melihat orang melakukan bungee jumping. SEo Jung berkata ingin melepas semua beban yang ada pada dirinya. Saat melakukan bungee jumping dia yakin tidak akan terpikir bebannya lagi. Woo Jin akhirnya berkata dia juga ingin ikut loncat bersama Seo Jung.

Mereka dipasangi tali pengaman dan terjun bersama-sama…

Style (Episode 6)


Sinopsis Style
Episode 6


Kim Min Joon menawari Lee Seo Jung tinggal di rumahnya bersamanya. Leo Seo Jung sempat kaget.

“Kamu emang nyaman tinggal bersama dengan teman dan pacar temanmu”, kata Min Joon “Aku bukan sepasang sepatu yang bisa dipindah tempat begitu saja”, kata Seo Jung risi. “Kamu menganggapmu seperti tomat, bagaimanapun aku juga perempuan”.

Setelah mencium Park Ki Ja, rupanya Woo Jin dan Ki Ja berkencan. Woo Jin dan Ki Ja bermaksud tidur di apartmen Woo Jin . Mereka berbicara masalah pribadi, dan masalah pernikahan. Ke duanya kompak tidak memikirkan soal menikah. Woo Jin bangun pagi hari, dia mendapati Ki Ja sudah tidak ada di sampingnya. Ki Ja sudah berangkat duluan ke kantornya.

Seo Jung terbangun hari sudah pagi, ternyata dia tertidur di depan komputer di rumah Min Joon. Mi Joon memberitahu bahwa ayah Seo Jung sudah memberi tahu bahwa setelah untuk PM Go telah selesai. Mereka bergegas bertemu ayahnya, dan mereka tampak puas dengan karya ayah Seo Jung.

Seo Jung menemui PM Go menawari (atau memohon tepatnya) untuk memakai baju rancangan Style yang dibuat oleh ayahnya.

Seo Woo Jin luluh dia bermaksud menemui ayah kandungnya yang sedang dirawat di rumah sakit. tapi dia urung karena banyak wartawan di dekat kamar ayahnya yang menggosipkan tentang hubungan dirinya dengan seorang pemilik perusahaan. Ternyata Dia menunggu di luar rumahsakit sampai sore dia menunggu hingga para wartawan pergi. Dia lalu secara pribadi menemui ayahnya. Ayahnya kembali mengatakan bahwa di asangat mencintai ibu Woo Jin dan minta Woo Jin mengambil alih Style untuk mewujudkan mimpi sang ibu.

Ki Ja masih sibuk mengkoordinasi anak buahnya untuk menyiapkan artikel untuk edisi ke 200. Ternyata akhirnya PM Go mau memakai baju dari Style berarti dia mau diwawancarai majalah Style. Ki Ja mengerahkan anak buahnya segera mempersiapkan pemotretan karena jadwal PM Go yang padat dan terbatas. Min Joon mempersiapkan studio dan kamera, staf lain mempersiapkan setting dan make up. Seo Jung dapat tugas luar untuk mencari baju-baju yang cocok untuk PM Go. Seo Jung sudah mendapatkan beberapa baju-baju, sepatu dan asesoris , tapi dia kesulitan mendapatkan gaun utama. Majalah gosip musuh bebeyutan mereka Korean Double telah memesan semua gaun yang bagus di butik langganan mereka. Ki Ja mulai khawatir karena Seo Jung belum juga hadir padahal PM Go sudah datang ke lokasi pemotretan dan mau dirias.Seo Jung akhirnya melihat toko lain yang memajang gaun ungu cantik. Butik itu bukan mitra Style, dia memohon dengan sangat agar manager mau meminjamkan gaun itu untuknya.

Walau terlambat, kecapaian, kaki bengkak dan hidung mimisan akhirnya dia berhasil datang membawa gaun, baju dan asesoris yang diperlukan.PM Go orangnya kaku dan tomboi agak sulit mendapat pose yang bagus dan sulit tersenyum. Namun Min Joon dengan pengalamannya sebagai fotografer mampu mencandai PM Go sehingga dia bisa relaks dan tersenyum. Pemotretan sukses, Lee Seo Jung sepertinya proyeknya akan berhasil kali ini untuk dipromosikan sebagai editor.

Menjelang terbitnya edisi 200 Ki Ja ternyata masih mendapat masalah. Majalah saingannya Korean Double yang gagal mendapatkan pemotretan untuk Woo Jin balas dendam. Mereka menerbitkan artikel gosip miring tentang woo Jin sebagai anak haram dari pemilik Style dan terlibat intrik di dalam Style. Berita ini memukul Woo Jin, Presdir Son juga Park Ki Ja yang perlu citra Style tetap bagus di mata rekan bisnis karena dia akan membuat pesta perayaan launching edisi 200 majalah Style.

Park Ki Ja minta Presdir menyerahkan penyelesaian masalah ini kepadanya.

Park Ki Ja menemui perwakilan Rouen di korea, Rouen ceritanya perusahaan fashion merek terkenal dunia dari Prancis yang sebagai mitra utama Style. Ki ja meyakinkan bahwa tidak perlu khawatir tentang citra Style, karenaitu adalah gosip murahan yang tidak benar seperti angin lalu.

Ki Ja menghubungi Seo Wo Jin, agar dia tidak terpengaruh untuk gosip itu dan jangan juga sembunyi, dia harus berani muncul seperti ibunya dulu sebagai topmodel. Ki Ja mengundangnya untuk hadir di perayaan launcing edisi ke 200 majalah Style.

Para staf majalah Style heboh mempersiapkan diri untuk pesta perayaan, Selain diharuskan membagikan undangan ke VIP mereka juga sibuk mempersiapkan penampilan mereka agar tidak memalukan di pesta sebagai editor majalah fashion. Para staf datang ke butik sponsor dan berebut gaun. Seo Jung sebagai orang baru di majalah ragu untuk datang ke acara pesta. Min Joon berkata bahwa bahwa Seo Jung juga harus datang dan tampil cantik. Dia yang akan mensponsori gaun untuk Seo Jung.

Park Ki ja datang ke butik langganannya untuk mencari gaun spesial dan memesan juga tuxedo untuk Woo Jin. Park Ki Ja sebenernya tidak menginginkan model gaun terbaru dia ingin gaun khusus keluaran beberapa tahun yang lalu yang hanya dibuat terbatas untuk ulang tahun majalah fashion terkemuka di amrik ke 200, rasanya cocok untuk momen Style kali ini. Tapi pemilik butik merasa gaun itu sudah sukar ditemukan walaupun di eropa sekalipun.

Semua bersiap-siap untuk datang ke pesta. Ki Ja sudah mengirimkan tuxedo untuk Woo Jin dan kembali menuliskan pesan untuk datang. Min Joon memperlihatkan gaun coklat indah untuk Seo Jung pakai. Min Joon berkata baju ini butuh beberapa hari perjalanan dari pemilik butik kenalannya di London. Hanya ada 200 dan dulu dibuat khusus untuk perayaan ke 200 majalah fashion terkemuka.

Perayaan ini selain dihadiri oleh orang-orang dunia fashion juga dihadari oleh para selebritis korea, termasuk artis K Pop FT Island dan 2PM yang akan mengisi acara. Presiden Direktor Son dan Park Ki Ja hadir dengan gaun mewah. Seo Jung dengan gaun indah dan riasan menawan datang berpasangan dengan Min Joon. Woo Jin datang sendirian.

Ki Ja mengenali busana yang dikenakan Seo Jung dan dia sangat kesal. Woo Jin hadir presdir tidak nyaman Di depan Presdir Ki Ja tidak mengakui bahwa Woo Jin diundang olehnya.

Woo Jin kesal dan dia merasa seperti orang tolol yang datang sendiri ke pesta yang tidak diharapkan. Ki Ja akhirnya memanggil Woo Jin karena mereka akan bertemu perwakilan dari Rouen. Woo jin merasa hanya dimanfaatkan oleh Ki Ja, dia marah. Min Joon juga tidak suka kehadiran Woo Jin, dia melihat tuxedo Woo Jin dan langsung menebak bahwa tuxedo semewah itu pasti dari Ki Ja.

Acara berlandung meriah. Ki Ja resmi menjadi Pemimpin Redaksi Style dan memberikan sambutan. Para staf dibagikan stiker untuk memasangkan stiker kepada hadirin dengan busana terbaik. Orang yang paling banyak tertempel stiker itulah pemenangnya dan akan mendapat hasiah tas tangan dari sponsor Rouen. Min Joon langsung menempelkan stiker pada Seo Jung. Park Ki Ja biasanya slalu mendapatkan gelar busana terbaik. Tapi kali ini para staff ingin menjaili bossnya, saat-saat terakhir lampu dimatikan mereka kompak menempelkan stiker kepada Seo Jung. Di akhir acara secara mengejutkan Seo Jung mendapat stiker terbanyak dan dia dinobatkan wanita dengan busana terbaik malam itu.

Dan hadiahnya akan diberikan oleh Pemimpin redaksi yang baru Park Ki Ja

Style (Episode 5)


Sinopsis Style
Episode 5


Bapak tua yang datang menemui Woo Jin sepertinya ayah biologis Woo Jin . Bapak itu udah tua , sakit-sakitan dan jalannya harus di kursi roda. Bapak itu minta Woo Jin masuk ke Style karena dulu style itu ia buatkan untuk ibunda Woo Jin. Nama “Style” itu adalah usul ibunya. Walau bagaimanapun dia menyayangi ibu Woo Jin yang mau berpacaran dengannya walaupun saat itu dia sudah tua . Woo Jin menolak karena merasa dia bukan keluarga mereka.

Seo Jung masih lembur di kantor , Min Joon menemuinya. Dia menyarankan

“Kalau kau penasaran tanyakan saja maksud ciuman mereka itu?”, kata MinJoon. Dia juga berkata bahwa Park Ki Ja membeli sepatu hijau itu sendiri. “Bagaimana alau kita juga kencan untuk membalas dendam pada mereka”, canda Min Joon. Seo Jung kaget, tapi Min Joon hanya mengucek rambut SEo Jung lalu pergi begitu saja.

Min Joon sebenernya stress akan hubungan kakak senior pujaannya (Ki Ja) dan Woo Jin. Dia menari sepuas-puasnya untuk menghilangkan galau hatinya.

Pagi hari Seo Jung bangun dengan ceria dia mau mengubah diri dia menjadi baru dan semangat. dia juga mulai berusaha memperhatikan penampilannya yang cuek dan minta temannya memake up dirinya. Seo Jung datang pagi-pagi ke kantor. Ki Ja heran. Seo Jung berkata dia akan berubah mulai saat ini. Tapi tetap saja riasan wajahnya dan bajunya masih dikritik masih jauh dari standar Ki Ja.

Park Ki Ja dengan serius meeting dengan anak buahnya untuk merancang edisi khusus majalah Style. Seo Jung diminta kembali konsentrasi meliput PM wanita. Seo Jung menguntit hari-hari PM. Di sana dia kembali bertemu dengan musuh lamanya (di eps awal) yang selalu menghalanginya meliput PM.

Park Ki Ja kali ini kehilangan Min Joon yang tidak ke kantor dia mengkhawatirkannya. Ki Ja menemui Min Joon di rumahnya dan minta Min Joon tidak mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Tapi Min Joon masih ngambek ceritanya.

Presdir Son, tau ayahnya menemui Woo Jin. Dia menekan Woo Jin bahwa dia tidak mungkin merebut Style darinya karena Style itu miliknya.

Dari presdir, Ki Ja tau sedikit banyak asal usul Seo Woo Jin, dia mengirimkan Woo Jin paket dokumen yang tentang sejarah Style. Woo Jin kesal apa lagi yang dimaui Park Ki Ja darinya.an Ki Ja berjanji dengan rekan bisnisnya di restoran Woo Jin. Dia minta dibuatkan artikel untuk edisi khusus. Setelah itu dia menemui Woo Jin. Woo Jin dengan penuh curiga menanyakan maksud Ki Ja memberinya dokumen sejarah Style.

“Apa kau tak takut aku akan menendangmu begitu aku masuk ke Style?!”, kata Woo Jin sinis.

Park Ki Ja minta ruangan Pemimpin Redaksi dibereskan dari barang-barang Kim Ji Won karena dia ingin pindah ke ruangan itu. Ji Won datang menengok ke kantor dan heran barangnya sudah disingkirkan Ki Ja.

“Aku hanya pergi dinas 20 hari!”, Ji Won marah

“Aku pastikan setelah 20 hari juga barangmu tidak ada di sini lagi”, sindir Ki Ja.

Ji Won menemui adiknya yang bekerja di majalah lain. adiknya ini musuh bebuyutannya Seo Jung. Dia meminta adiknya meliput tentang PM Go dan Seo Woo Jin karena itu yang sedang akan diliput Ki Ja. Ji Won dendam dan ingin menggagalkan rancangan edisi khusus yang dibuat Ki Ja.

Seo Jung pulang ke rumah dan mendapati Kap Joo teman sekamarnya membawa pacarnya orang asing untuk tinggal bersama mereka. Seo Jung pusing dan risih.
“Tenang saja dia bukan laki-laki dia ini orang asing”, kata Kap Joo cuek.

Beredar berita miring tentang PM Go mengenai pakaiannya yang buruk. Ki Ja melihat ini peluangnya untuk bisa meliput PM Go. Dia menemui sekretarisnya dan berjanji akan merancangkan pakaiannya dan memohon jadwal pemotretan.

Seo Jung menengok seniornya Min Joon di rumahnya. Di sana dia sambil menyiapkan rancangan baju untuk PM Go. Min Joon memberinya saran. Ayah Seo Jung yang merupakan penjahit jas sedang ada di SEol, Min Joon dan SEo Jung minta bantuan ayahnya untuk membuatkan/mempermak Jas seperti rancangan Seo Jung.

Ki Ja mendapat laporan bahwa Woo Jin menerima pemotretan dari majalah lain dalam rangka acara amal. Dia marah merasa rencananya diserobot juga marah pada Woo Jin yang bersedia diwawancarai majalah lain.Dia menghampiri acara itu dan langsung melabrak majalah itu , dia juga berbicara tegang dengan Woo Jin.

Mereka lalu keluar Ki Ja memukul Woo JIn dengan tasnya dan menyindir tentang asal usul keluarga/ masa lalu Woo Jin. Woo Jin yang gantian marah dia minta Ki Ja minta maaf, tapi Ki Ja kabur. Woo Jin mengejarnya sampai tempat parkir. Woo Jin bersikukuh minta Ki Ja minta maaf tapi Ki Ja juga bersikukuh cuek. Woo Jin menarik baju Ki Ja sampai robek. Min Joon da Seo Jung kebetulan datang berusaha melerai mereka. Tapi mereka menolak urusan mereka dicampuri.

Ki ja tiba di rumahnya dia merenung. Malamnya dia kembali menemui Woo Jin di restorannya. Ki Ja meminta maaf. Woo Jin masih kesal dan menganggap ucapan Ki Ja yang dingin hanya basa basi. Ki Ja mengaku bahwa dia sebenarnya bukan orang tanpa perasaan. Dia hanya berusaha menyingkirkan perasaan pribadi dan masalah pekerjaan. Woo Jin menganggap kali ini ucapan Ki Ja tidak ada yang ditutup tutupi dia mencium Ki Ja.

Seo Jung kembali menyelesaikan artikel bersama Min Joon di rumah Min Joon. Dia tiba-tiba berkata

“Kenapa sering terlihat Woo Jin dan Ki Ja bertengkar hebat. Jangan-jangan mereka saling jatuh cinta?”

Min Joon merenung lama sekali. Dia lalu berkata pada Seo Jung

“SEo Jung sudahlah kau tinggal saja di sini. Tinggallah bersamaku”, pinta Min Joon.

Seo Jung kaget dia cuma melongo…

Style (Episode 4)


Sinopsis Style
Episode 4

Park Ki Ja baru mengetahui bahwa ternyata sepatu yang dipilihkannya itu untuk Seo Jung. Dia juga kesal dan tak rela memakai sepatu yang sama dengan SEo Jung. Ki Ja membuka sepatunya dan lebih memilih pulang tanpa alas kaki.

Seo Jung yang sedang kecewa artikelnya tak jadi terbit juga bertambah kesal. Min Joon heran ternyata seniornya terlalu berlebihan.

Esok hari majalah itu beredar di publik. Betapa kagetnya pemred dan woo jin. pada saat yang sama Ki Ja mencoba mendekati presdir.Presdir memberikannyauang kompensasi untuk diberikan kepada Woo JIn.

Pemred marah pada Park Ki Ja, dia menuduh park ki ja telah menusuknya dari belakang.

Woo Jin kesal karena artikelnya teryata tidak terbit, dia mendatangi Park ki Ja di kantor. Park Ki Ja masih mendendam pada Woo Jin soal sepatu itu .

Dengan dingin ia berkata dialah yang berhak menentukan artikel itu dimuat atau tidak. Dia meninggalkan uang kompensasi untuk woo jin dan pergi meninggalkan Woo jin yang sedang kesal.

Dalam keadaan kesal Woo Jin lalu menemui Seo Jung . Dia berkata tak mau lagi berurusan dengan SEo Jung. Woo JIn ingat sebenarnya dari dulu dia juga tidak mau diliput Style, ini karena Seo Jung terus membujuknya. Eh akhirnya dia malah dipermalukan.

Artikel Julia K yang ditulis Park Ki Ja, meliput rancangan yang pernah dia buat dulu juga foto model favoritnya dulu. Model itu ternyata adalah ibunda Seo Woo Jin. Presdir kesal begitu melihat model yang terpampang di artikel Julia K (ibunda Woo JIn), dia sepertinya ada dendam masa lalu dengannya. Dia merobek majalahnya dan memanggil pemred dan juga Park Ki Ja. Park Ki Ja akhirnya dipersalahkan, dia terdesak posisinya.

Seo Jung sakit dan tidak muncul di kantor. Dia cape lahir batin. Senior Kim Min Joon menengoknya. SEo Jung tampak pucat dan kelelahan. Min Joon membawakannya es krim dan menyuapinya. Min Joon percaya es krim bisa membuat badan lebih segar.

Di restorannya Woo Jin melihat artikel Julia K dia melihat foto ibunya kala masih muda. Dia terharu dan tidak percaya ibunya ternyata sangat cantik. Julia menemui seseorang bapak tua, dia memperlihatnya foto ibu Woo Jin saat muda.

Park Ki Ja merenung dia akhirnya menulis surat pengunduran dirinya. Dan menyerahkannya pada pemred pagi harinya.

Tapi bukan Ki Ja kalau menyerah begitu saja dia menemui teman dekat bisnis pemred dan mengancamnya soal penyalahgunaan iklan.
Presdir menemui Pemred dia memperlihat hasil audit iklan dan uang yang disetor. Pemred terbukti berkolusi dengan salah satu rekan bisnisnya.

Merasa mungkin kali ini saat – saat terakhirnya di kantor Park Ki Ja mentraktir anak buahnya makan malam. Dia sengaja memilih restoran Woo Jin. Karena dipaksa Woo Jin dengan malas duduk semeja dengan mereka. Seo Jung masih stres dia minum anggur, begitu juga Woo Jin dan Min Joon. Namun seo jung yang menghabiskan wine paling banyak.

Woo Jin kesal dengan sikap Ki Ja yang dingin ingin menang sendiri, tidak merasa salah dan tak meminta maaf padanya. Mereka juga berencana pergi ke karaoke, woo jin terpaksa ikut juga. Di sisi jalan dia mengomel dan menyalahkan Ki Ja. Ki Ja yang dingin kesal juga, dia menyuruh woo Jin diam tapi Woo Jin tak berhenti ngomel. Park Ki Ja mencium Woo Jin. Woo Jin tak suka dan berusaha melepaskan diri. Ki Ja beralasan dia menciumnya karena mulut Woo Jin tak mau berhenti bicara.

Tanpa tau apa yang terjadi Seo Jung dan Min Joon kebetulan menyaksikan Woo Jin dan Park Ki Ja berciumian. Min Joon patah hati, SEo Jung walau mabuk dia juga melihatnya dan patah hati. Di tempat Karaoe Seo Jung mabuk dan menyanyi keras-keras. Min Joon kasihan melihat Seo Jung yang mabuk dan terlihat merana. Pemred Kim Ji Won yang sadar dia diserang Ki Ja datang ke tempat karaoke. Dia marah pada Ki Ja dan menyiram Ki Ja dengan es batu. Ki Ja berusaha tetap dingin dan cuek.

“Apa kamu menyukai Woo Jin”, tanya Min Joon

“Ya…eh tidak”, walau mabuk dia berusaha menyembunyikan perasaannya.

Seo Jung mabuk, Min Joon membawa Seo Jung ke rumahnya. Pagi harinya ketika sadar Dia stress takut diapa-apain ama Min Joon. Min Joon cuma tertawa. Seo Jung tiba-tiba ingin ke kamar mandi, doa menjerit karena melihat Min Joon yang tengah mandi.

Mereka lalu pergi ke kantor bersama. Di mobil Seo Jung malu dan tidak mau bicara. Min Joon mencairkan suasana

“Aku khan yang jadi korban, yang dilihat olehmu. Mengapa kau yang tidak mau bicara”. kata Min Joon.

Tiba-tiba Seo Jung merasa ingat sesuatu “Apa benar tadi malam aku meliat Woo Jin dan boss…”
“Sudah lupakan semua itu”, kata Min joon sambil menjentikkan jarinya.

Di lift mereka bertemu Park Ki Ja. Ki Ja menyindir baju Seo Jung yang terlihat belum ganti baju. Dia mencurigai Min Joon dan Seo Jung. Seo Jung berusaha menyangkal. Namun Min Joon ingin pamer dan berkata dia semalam memang bersama Seo Jung.

Di kantor Presdir kembali memanggil pemred Kim Ji Won dan Park Ki Ja. Dia kembali mempekerjakan Ki Ja dan meminta Kim Ji Won tugas luar ke Paris untuk beberapa lama. Presdir mempercayakan edisi khusus disiapkan sepenuhnya oleh Park Ki Ja. Ki Ja sekarang merasa menang.

Seo Jung menemui Woo Jin, dia ingin mengembalikan sepatu pemberian Woo Jin. Dia merasa dipermainkan oleh Woo Jin. Selama ini SEo Jung mengira woo Jin memberikan dua pasang sepatu , satu untuknya dan satu untuk Ki Ja.Tapi woo jin tak mau menerima barang itu kembali, dia menyuruh Seo Jung membuangnya saja jika tidak mau. Seo Jung pergi , begitu melihat tempat sampah dia membuangnya. tapi dia berubah pikiran san sayang sepatu itu, dia mengambilnya kembali.

Makan malam presdir mentraktir Park Ki Ja. Dia menjanjikan Ki Ja jika majalah edisi khusus sukses dia akan dipromosikan menjadi Pemimpin Redaksi.

Malam hari seorang bapak tua yang sangat mengenal Woo Jin mengunjungi restorannya. Dia berbicara pada Woo Jin dan meminta Woo Jin mengambil alih Style.

Style (Episode 3)


Sinopsis Style
Episode 3


Min Joon dan Woo Jin sama-sama spontan terjun ke air untuk menolong Park Ki Ja. Tapi Min Joon keduluan sama Woo Jin dan dia kesal. Malang bagi Seo Jung dia timbul tenggelam di air sendiri mereka lupa menolongnya..

Rombongan pulang kembali ke Seoul ke kantor, dan kepergian kali ini bagai mimpi buruk bagi Seo Jung.
“Aku ini juga khan perempuan, dan mereka tidak menolongku”, Seo Jung kesal pada nasibnya sendiri.

Dia menjemur sepatu dan bajunya yang basah di lantai atas gedung. eh lagi-lagi dia sial, sepatunya jatuh ke lantai dasar. Belum lagi Park Ki ja dan Min Joon yang menanyainya tentang setelan yang hilang. Seo Jung rasanya telah berkali-kali menkan dengar bossnya mengatakan “Kau tidak becus dalam segala hal yang kau kerjakan”.

Seorang editor mengembalikan baju pada Min Joon, dia berkata dia hanya meminjam baju itu karena ingin tampak keren di mata para wanita. Min Joon mencek baju itu, ternyata itu baju yang selama ini mereka ributkan hilang. Editor itu meminta maaf dan memohon-mohon pada Seo Jung agar tidak mengatakan hal ini pada siapapun apalagi pada bosnya. “Kau kan sudah sering dimarahi dan dihukum boss, jadi sudah terbiasa”, katanya memohon dengan cemas. Seo Jung lagi-lagi kesal pada dirinya sendiri.

Manager dan Park Ki Ja menemui Presdir. Presdir tiba-tiba berubah pikiran dia tidak mau Chef Woo Jin diliput di makalahnya. Managernya yang penjilat segera mengiyakan tapi pak Ki Ja kesal pada managernya yang tidak punya prinsip. “Ini lah makanya majalah kita tidak pernah menjadi majalah no 1″

Giliran SEo Jung yang bingung manager memintanya menghentikan menulis liputan Woo Jin sedangkan Park Ki Ja menyuruhnya jalan terus
“Kau harus mempertahankan apa yang tengah kau kerjakan”, desak Ki Ja.

Park Ki Ja berdandan menawan menemui Woo Jin, dia mengatakan terimakasih karena Woo Jin bagaimanapun telah menolongnya di kolam renang
“Itu hanya reflek spontan, tak perlu dilebih-lebihkan”, Woo Jin merendah.

Dia mengajak Ki Ja jalan karena dia bermaksud membelikan hadiah untuk wanita dan minta Ki Ja memilihkan untuknya. Mereka melihat-lihat sepatu, Woo Jin menunjuk sepatu casual warna putih yang sederhana tapi manis. Tapi Ki Ja memberinya saran sepatu hijau yang lebih trendy.

Di kantor Min Joon kasihan pada SEo Jung yang sebenarnya tidak bersalah, dia tahu sepatu SEo Jung masih basah, dia mengajaknya pergi dan mencarikan sepatu. Mereka berempat bertemu dengan saling salah tingkah. Min Joon tidak sengaja memilihkan sepatu warna putih seperti yang sempat dilihat Woo Jin tadi dan membelikannya untuk Seo Jung. Ki Ja kesal melihatnya.

Hubungan Ki Ja dan Min Joon yang secara fisik begitu dekat tiba-tiba jadi dingin. Min Joon tidak senang karena dia rasa di hati seniornya telah ada laki-laki lain.

Seo Jung senang dengan sepatu yang telah dibelikan untuknya. Dia seharusnya benar-benar bersyukur tetapi hatinya tidak merasa demikian. Dia masih tidak enak melihat Woo Jin bersama atasannya tadi.

Seo Jung jadi merasa kesal dengan Woo Jin dia mencurahkan kekesalannya pada artikel Woo Jin yang sedang disusunnya. Tapi manager mengiranya lain, dia memarahi SEo Jung yang masih nekad menulis tentang Woo Jin.

Mantan model dan Designer senior Julia K kembali ke korea setelah lama tinggal di luar negeri. Dia curiga ada hubungan yang tidak baik antara manager/pemred nya. Dia ingin menggunakan berita Julia K untuk menekan managernya. Dia juga curiga ada hubungan apa antara presdir dan Woo Jin. Secara Kebetulan Woo Jin kenal baik dengan Julia K karena teman ibunya.

Park Ki ja kembali mencela SEo Jung, dia beranggapan bahwa tulisan artikelnya tidak bermutu. Kim Joon datang menengahi. Dia heran pada seniornya Ki Ja karena menurutnya tulisan Seo Jung tidak ada salahnya. Giliran Ki Ja yang kesal dia menuduh Kim Joon dan Seo Jung berpacaran.

Seo Woo Jin menemui Seo Jung. Dia ternyata membelikan sepatu hijau itu untuk Seo Jung. Seo Jung terpana dia sempat sedih karena mengira Woo Jin membelikan sepatu itu untuk Park Ki Ja. Woo Jin mengatakan bahwa itu hadiah untuk Seo Jung karena mendapat promosi sebagai editor.

Park Ki ja menyiapkan dua artikel utama yang masing-masing bisa mengerjai manager atau presdir. Dia mengajak presdir bertemu dengan Julia K di restoran Woo Jin. Presdir kaget bertemu Woo Jin tapi mereka masih pandai menutupi hal ini.

Seo Jung senang karena artikel yang ditulisnya tentang Seo Jung akan diterbitkan, itu debut pertamanya sebagai editor.

Park Ki Ja pergi ke toko sepatu dia sudah jatuh cinta pada sepatu hijau yang dia pilihkan untuk Woo Jin. Dia juga membeli untuk dirinya sendiri. Dia juga masih penasaran tentang hubungan presdir dan Woo Jin, tapi dia belum berhasil menguaknya. Detik-detik terakhir menjelang pencetakan majalah, Park Ki Ja memutuskan untuk mengganti artikel Woo Jin dengan Julia K. Untuk kali ini dia memutuskan untuk mengerjai manager/pemred nya dulu.

Seo Jung di tempat percetakan kaget dan kecewa ternyata artikelnya tidak jadi terbit dan digantikan oleh artikel Julia K. Park Ki Ja juga datang ke percetakan untuk mengecek majalah. Seo Jung begitu kesal melihat atasannya saat itu, dia tahu pasti perubahan ini atas perintah atasannya.

Pada saat yang sama dia Ki Ja melihat bahwa Seo Jung dia dan seo Jung memakai sepatu hijau yang sama. Dia tidak rela kalau ternyata sepatu itu untuk Seo Jung.